
Menariknya, jabatan Paus tidak hanya terbatas pada ranah keagamaan. Paus juga adalah kepala negara Kota Vatikan, negara merdeka terkecil di dunia yang berada di jantung Kota Roma, Italia.
Dalam kapasitas ini, Paus memiliki peran diplomatik penting dan menjadi representasi Vatikan dalam hubungan antarnegara.
Bagaimana Paus Dipilih?
Pemilihan Paus dilakukan melalui sebuah proses tradisional dan tertutup yang disebut konklaf. Proses ini hanya diikuti oleh para kardinal Gereja Katolik yang berusia di bawah 80 tahun.
Mereka dikunci dalam Kapel Sistina dan tidak boleh berkomunikasi dengan dunia luar sampai seorang Paus baru terpilih.
Selama konklaf, dilakukan pemungutan suara berkala. Untuk bisa terpilih, seorang calon harus mendapatkan minimal dua pertiga suara. Jika belum ada keputusan, cerobong kapel akan mengeluarkan asap hitam (fumata nera).
Namun jika sudah ada keputusan, asap putih (fumata bianca) akan mengepul – tanda yang telah dinantikan dunia: “Kita punya Paus baru!”
Setelah itu, nama Paus yang terpilih diumumkan kepada publik dalam pidato terkenal dari balkon Basilika Santo Petrus: “Habemus Papam”, yang berarti “Kita memiliki seorang Paus!”
Paus bukan sekadar tokoh agama, tetapi juga simbol moral, spiritual, dan diplomatik yang menjangkau jauh melampaui batas-batas gereja.
Dengan sejarah panjang dan pengaruh yang luas, peran Paus tetap relevan dalam dunia modern – menjadi suara perdamaian, keadilan, dan kasih bagi semua orang, tanpa memandang agama maupun bangsa.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















