
BOGORTODAY.COM – Sebuah serangan udara Israel menghantam Sekolah Yaffa di wilayah Tuffah, Kota Gaza, pada Rabu (23/4/2025), yang saat itu digunakan sebagai tempat penampungan oleh keluarga-keluarga terlantar. Akibat serangan ini, sedikitnya 10 orang tewas dan banyak yang terluka.
Tim medis yang berada di lokasi mengatakan bahwa serangan tersebut menghancurkan tenda dan ruang kelas, dengan beberapa perabotan masih terbakar beberapa jam setelah serangan. Para korban yang selamat terlihat mencari barang-barang mereka di antara puing-puing sekolah yang telah terbakar.
Salah satu saksi mata, Um Mohammed Al-Hwaiti, menggambarkan momen mengerikan tersebut. “Kami sedang tidur dan tiba-tiba ada sesuatu yang meledak. Kami mulai mencari dan menemukan seluruh sekolah terbakar, tenda-tenda di sana-sini terbakar, semuanya terbakar,” ungkapnya dengan suara gemetar.
Ia melanjutkan, “Orang-orang berteriak, membawa yang terluka, anak-anak yang hangus, dan semua berteriak, ‘Ya Tuhan, hanya Engkau yang bisa menolong kami.'”
Belum ada komentar resmi dari pihak Israel mengenai serangan tersebut.
Selain menyerang sekolah, militer Israel juga menghantam Rumah Sakit Anak Durra di Kota Gaza pada hari yang sama.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa serangan ini merusak unit perawatan intensif dan menghancurkan sistem panel surya yang memasok listrik ke rumah sakit tersebut.
Banyak warga Palestina dilaporkan masih terperangkap di bawah reruntuhan, sementara tim penyelamat kesulitan mencapai mereka karena pemboman yang terus berlangsung.
Serangan-serangan ini terjadi setelah gencatan senjata pada Januari berakhir pada 18 Maret. Sejak itu, lebih dari 1.600 warga Palestina dilaporkan tewas, dan ratusan ribu lainnya mengungsi akibat serangan Israel yang berlanjut di Gaza. Israel juga telah memblokade semua pasokan barang, termasuk bahan bakar dan listrik, yang memasuki Gaza sejak awal Maret.
Di tingkat internasional, menteri luar negeri Jerman, Prancis, dan Inggris bersama-sama meminta Israel untuk mematuhi hukum internasional dan memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan tanpa hambatan ke Gaza.
Mereka juga mendesak gencatan senjata kembali diberlakukan dan para sandera yang masih ditahan oleh Hamas untuk dibebaskan.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmorstein, menanggapi pernyataan ini dengan menegaskan bahwa tidak ada kekurangan bantuan di Gaza, sebuah klaim yang bertentangan dengan kesaksian dari dokter dan warga sipil yang melaporkan kekurangan besar dalam persediaan medis dan pangan.
Serangan ini menambah ketegangan di kawasan yang telah lama dilanda konflik, dan dunia internasional semakin menyoroti krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















