BOGORTODAY.COM – Serangan rudal Rusia kembali mengguncang ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Kamis (24/4/2025) dini hari waktu setempat.
Serangan tersebut menewaskan sembilan orang dan melukai lebih dari 60 orang, termasuk anak-anak, menjadikannya salah satu serangan paling mematikan di kota itu sejak awal invasi Rusia tiga tahun lalu.
“Rusia telah melancarkan serangan gabungan besar-besaran di Kyiv,” ungkap layanan darurat Ukraina melalui akun Telegram resmi mereka.
Kerusakan Parah di Lima Distrik Kyiv
Serangan ini menyebabkan kerusakan besar di lima distrik di ibu kota. Kebakaran hebat terjadi di beberapa garasi dan gedung-gedung pemerintahan, serta bangunan tempat tinggal warga.
Meski api telah berhasil dipadamkan, proses pencarian korban di bawah reruntuhan masih berlangsung.
Dari 63 korban luka, 42 orang dilarikan ke rumah sakit, dan enam di antaranya adalah anak-anak.
Wartawan AFP yang berada di Kyiv melaporkan bahwa mereka mendengar ledakan-ledakan keras ketika serangan terjadi. Sejumlah warga terlihat mengungsi ke tempat perlindungan bom di ruang bawah tanah untuk berlindung.
Kharkiv Juga Jadi Sasaran
Tidak hanya Kyiv, Kota Kharkiv di Ukraina timur juga menjadi target serangan. Tujuh rudal menghantam kota itu pada waktu yang hampir bersamaan. Menurut Wali Kota Kharkiv, Igor Terekhov, kota tersebut bahkan diserang dua kali dalam satu malam.
“Salah satu serangan terbaru menghantam kawasan permukiman padat penduduk… Dua orang terluka di sana,” kata Terekhov, sambil meminta warga tetap waspada dan berhati-hati.
Reaksi Pemerintah Ukraina
Penasihat utama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Andriy Yermak, mengecam keras serangan tersebut. Ia menyebut Rusia telah melancarkan serangan terkoordinasi ke berbagai kota dengan rudal dan drone, menyasar warga sipil.
“Putin hanya menunjukkan keinginan untuk membunuh,” tegas Yermak.
“Serangan terhadap warga sipil harus dihentikan.”
Serangan ini kembali memicu kecaman internasional dan mempertegas risiko kemanusiaan dari konflik yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Masyarakat internasional menantikan tanggapan keras dari berbagai pemimpin dunia terhadap eskalasi terbaru ini.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















