
“Indonesia mendesak seluruh anggota PUIC untuk mengambil tindakan nyata melalui diplomasi parlementer dan dukungan terhadap proses hukum internasional,” tegasnya.
Langkah ini disebut penting demi menuntut keadilan bagi rakyat Palestina dan menuntut pertanggungjawaban atas kejahatan perang yang terjadi.
Visi: Suara Parlemen adalah Suara yang Terpinggirkan
Salah satu misi penting dalam PUIC ke-19 adalah membantu kelompok rentan dan suara-suara yang terpinggirkan. Isu-isu seperti perlindungan komunitas Muslim minoritas, pemberdayaan perempuan di parlemen, dan kerja sama ekonomi Islam juga menjadi pembahasan utama.
“Suara parlemen adalah suara mereka yang terpinggirkan,” ujar Mardani.
Menjembatani Perdamaian Global
DPR RI juga mengangkat isu-isu krusial lainnya, seperti:
- Perdamaian antara India dan Pakistan
- Konflik Ukraina dan Rusia
- Stabilitas kawasan dan masa depan dunia Islam
“PUIC harus mampu menjadi jembatan perdamaian antarnegara yang berkonflik,” kata Mardani.
Konferensi PUIC ke-19 bukan hanya forum diplomasi, tapi menjadi wadah strategis untuk mengukuhkan solidaritas antarparlemen negara-negara Islam.
Indonesia sebagai tuan rumah berkomitmen mendorong peran aktif parlemen dalam menciptakan dunia yang lebih adil, inklusif, dan damai.
Konferensi ini akan berlanjut hingga 15 Mei 2025, dan diharapkan menghasilkan resolusi bersama yang berdampak nyata bagi dunia Islam dan masyarakat global.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















