BOGORTODAY.COM – Jika Anda tinggal di Indonesia, jet shower atau bidet tentu bukan hal asing. Alat ini digunakan untuk membersihkan diri setelah buang air dan menjadi bagian penting dari kebersihan pribadi.
Namun, berbeda halnya dengan Amerika Serikat, di mana penggunaan jet shower atau bidet masih sangat jarang — bahkan dianggap aneh oleh sebagian orang.
Bagi yang pernah berkunjung ke AS atau menonton film Hollywood, mungkin sudah familiar dengan kebiasaan masyarakat di sana yang mengandalkan tisu toilet untuk membersihkan diri, bukan air.
Toilet-toilet di rumah, hotel, maupun tempat umum di AS umumnya tidak dilengkapi jet shower atau alat pembersih berbasis air lainnya. Mengapa bisa begitu?
Berikut beberapa alasan mengapa masyarakat Amerika Serikat tidak terbiasa menggunakan jet shower atau bidet di kamar mandi mereka:
- Konsep yang Asing dan Tidak Umum
Jet shower dan bidet adalah konsep yang asing bagi masyarakat AS. Alat ini lebih dikenal sebagai fitur mewah atau canggih yang umum ditemukan di Eropa, Jepang, Timur Tengah, dan beberapa negara Asia lainnya.
Banyak orang Amerika bahkan tidak tahu cara menggunakan bidet, dan belum pernah melihatnya sebelumnya.
Selain itu, tisu toilet sudah terlanjur melekat dalam budaya masyarakat AS. Marketing tisu toilet sangat kuat dan telah membentuk kebiasaan turun-temurun.
Untuk membuat masyarakat beralih dari tisu ke bidet, diperlukan perubahan besar dalam cara pandang dan gaya hidup — yang tentu tidak mudah.
- Konotasi Negatif Sejak Perang Dunia II
Bidet, yang awalnya populer di kalangan bangsawan Prancis, memiliki sejarah konotasi negatif di Amerika Serikat. Selama Perang Dunia II, banyak tentara Amerika melihat bidet digunakan di rumah-rumah bordil di Eropa.
Ketika mereka pulang ke AS, persepsi ini terbawa, dan bidet dianggap tidak pantas atau berhubungan dengan tempat yang “tidak bersih” secara moral.
Sejak saat itu, popularitas bidet tidak pernah benar-benar tumbuh di AS. Meskipun di negara-negara lain, bidet justru dianggap sebagai simbol kebersihan dan kenyamanan.
- Sistem Perpipaan Rumah Tidak Mendukung
Setelah Perang Dunia II, banyak rumah di AS dibangun tanpa sistem perpipaan untuk mendukung instalasi bidet.
Bidet bergaya klasik biasanya membutuhkan instalasi pipa air yang terpisah, yang membuatnya sulit diterapkan pada rumah-rumah standar Amerika tanpa renovasi besar.
Namun kini, teknologi seperti bidet semprot atau kursi toilet berteknologi Jepang sebenarnya bisa dipasang tanpa sistem perpipaan khusus.
Sayangnya, kurangnya edukasi dan kebiasaan yang sudah mengakar membuat adopsinya tetap lambat.
Apakah Tren Bisa Berubah?
Meski masih minoritas, penggunaan bidet mulai meningkat di AS, terutama setelah pandemi COVID-19.
Ketika terjadi kelangkaan tisu toilet, banyak orang Amerika mulai mencari alternatif yang lebih higienis dan berkelanjutan. Bidet portabel, jet shower, hingga toilet pintar ala Jepang mulai dilirik sebagai solusi.
Perubahan ini mungkin menjadi awal dari revolusi kebersihan toilet di AS, meskipun butuh waktu lama untuk menggeser budaya yang sudah berakar selama puluhan tahun.
Toilet tanpa air mungkin terdengar janggal bagi banyak orang Indonesia, tetapi itulah kenyataannya di Amerika Serikat.
Faktor budaya, sejarah, dan infrastruktur berperan besar dalam minimnya penggunaan bidet atau jet shower di sana.
Namun, seiring waktu dan meningkatnya kesadaran akan kebersihan, bukan tidak mungkin alat ini akan menjadi bagian dari kamar mandi rumah-rumah Amerika di masa depan.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















