
BOGORTODAY.COM – Gunungan sampah yang menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 400 pemulung.
TPA yang berdiri di atas lahan seluas 42 hektare ini menampung ribuan ton sampah dari wilayah Kabupaten dan Kota Bogor.
Di balik bau menyengat dan tumpukan sampah, ratusan pemulung menggantungkan harapan hidup mereka. Salah satunya adalah Abah Uti (63), yang telah menjadi pemulung selama 13 tahun.
Ia terpaksa menjadi pemulung di gunungan sampah TPAS Galuga, lantaran sejak belasan tahun lalu Abah Uti terserang rasa sakit dibagian kaki hingga tidak bekerja seperti sedia kala.
“Saya sudah hampir 13 tahun memulung karena punya penyakit di kaki. Kalau istri saya malah sejak TPA ini dibuka,” ujar Uti saat ditemui di lokasi pada Selasa (20/5/2025).
Setiap hari, Uti bersama istrinya mengumpulkan barang-barang bekas yang masih bernilai jual. Dari hasil tersebut, mereka bisa mendapatkan penghasilan antara Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per hari.
Abah Uti mengakui hasil yang didapatkan dari memulung rongsokan setiap harinya tersebut sangat kecil. Namun, cukup untuk sekedar makan bersama anak istrinya.
“Yang penting cukup buat dapur saja,” tambahnya.
Pekerjaan sebagai pemulung tak lepas dari risiko kesehatan. Uti mengaku sering mengalami sakit di bagian kaki dan gangguan pernapasan.
“Kadang ada perhatian, dari Puskesmas atau pihak Kabupaten, tapi tidak rutin,” keluhnya.
Meski demikian, Abah Uti tetap bertahan demi menghidupi ketiga anaknya yang masih bersekolah.
“Usaha ini satu-satunya yang saya punya. Sehari paling bisa dapat tiga sampai empat karung,” pungkasnya.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















