
BOGORTODAY.COM – Sebuah studi internasional terbaru memberikan peringatan keras terhadap kondisi lapisan es di Greenland dan Antartika.
Tingkat pencairan es kutub terus meningkat secara mengkhawatirkan dan dapat memicu bencana global, terutama bagi wilayah-wilayah pesisir yang padat penduduk.
Studi yang diterbitkan di jurnal Communications Earth and Environment pada Selasa (20/5) ini melibatkan tim ilmuwan dari berbagai negara yang menganalisis data satelit, model iklim, serta bukti dari masa lalu seperti inti es, sedimen laut dalam, dan bahkan DNA gurita.
Hasilnya menunjukkan bahwa dunia mungkin sudah melewati batas aman untuk menjaga kestabilan lapisan es utama bumi.
Pemanasan Global Tak Lagi Terkendali
Perjanjian Paris sempat menjadi harapan dunia untuk menahan laju pemanasan global di bawah 1,5 derajat Celsius dibandingkan era pra-industri.
Namun, dunia kini justru berada di jalur yang mengarah ke pemanasan sekitar 2,9 derajat Celsius pada akhir abad ini — jauh di atas target aman.
Yang lebih mengkhawatirkan, studi ini mengungkap bahwa kenaikan suhu 1,5 derajat Celsius pun kemungkinan besar tidak cukup untuk menyelamatkan lapisan es Greenland dan Antartika.
Bahkan jika dunia berhasil menahan pemanasan global di angka saat ini — sekitar 1,2 derajat Celsius — pencairan besar-besaran tetap berpotensi terjadi.
Lapisan Es Bisa Ubah Wajah Dunia
Lapisan es Greenland dan Antartika mengandung cukup air untuk menaikkan permukaan laut global hingga 65 meter — skenario terburuk yang dianggap tidak realistis untuk waktu dekat, namun cukup untuk menunjukkan betapa besar dampaknya jika pencairan tak terkendali.
Sejak 1990-an, jumlah es yang mencair telah meningkat empat kali lipat, dengan kehilangan sekitar 370 miliar ton es per tahun.
Ini menjadikan pencairan es sebagai penyumbang utama terhadap kenaikan permukaan laut, yang saat ini naik dua kali lebih cepat dibandingkan 30 tahun lalu.
Peneliti memperkirakan bahwa pada akhir abad ini, permukaan laut bisa naik hingga 10 sentimeter per tahun, atau 1 meter per abad.
Angka ini cukup untuk menyebabkan migrasi massal dari wilayah pesisir yang terdampak, dengan ratusan juta orang berpotensi kehilangan tempat tinggal.
“Anda akan melihat migrasi daratan besar-besaran dalam skala yang belum pernah kita saksikan sejak peradaban modern,” ujar Jonathan Bamber, ahli glasiologi dari University of Bristol dan salah satu penulis studi.
Krisis yang Tak Bisa Diubah dalam Rentang Waktu Manusia
Menurut studi ini, pemanasan global dapat mendorong lapisan es ke ambang kehancuran yang tidak bisa dibalikkan dalam skala waktu manusia.
Bahkan jika suhu global distabilkan, pencairan bisa terus berlanjut akibat proses internal dalam sistem iklim dan geologi.
“Anda tidak memperlambat kenaikan permukaan laut pada angka 1,5. Pada kenyataannya, Anda melihat akselerasi yang cukup cepat,” kata Chris Stokes, glasiolog dari Durham University.
Studi juga menekankan bahwa perkiraan ambang batas suhu aman terus menurun seiring meningkatnya pemahaman ilmiah tentang betapa rentannya lapisan es terhadap perubahan iklim.
Jika sebelumnya diperkirakan bahwa suhu harus mencapai 3 derajat Celsius untuk mengguncang lapisan es Greenland, kini cukup dengan 1,5 derajat saja untuk memicu kehancuran.
Apa Artinya untuk Masa Depan?
Sekitar 230 juta orang di dunia hidup kurang dari 1 meter di atas permukaan laut. Kenaikan air laut beberapa meter, meski terjadi dalam waktu ratusan tahun, akan mengubah garis pantai global dan memaksa migrasi besar-besaran serta memicu krisis kemanusiaan yang kompleks.
Para ilmuwan menyimpulkan bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan lapisan es adalah membatasi pemanasan global sedekat mungkin ke angka 1 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri — sebuah target yang tampaknya semakin sulit tercapai.
Dengan kata lain, waktu kita semakin menipis. Tanpa tindakan global yang radikal dan segera untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, dunia menghadapi risiko nyata dari bencana lingkungan skala besar yang bisa berlangsung selama berabad-abad.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















