
Hal ini dilakukan dengan alasan antisipasi potensi bentrokan, terutama mengingat riwayat ketegangan dalam perayaan Hari Yerusalem di tahun-tahun sebelumnya.
Namun, kehadiran besar-besaran aparat keamanan tidak mencegah terjadinya pelanggaran terhadap warga sipil.
Sejumlah saksi mata melaporkan adanya pelecehan verbal, tindakan agresif terhadap pedagang lokal, dan penghadangan terhadap warga Palestina serta aktivis hak asasi.
Kritik Internasional dan Kekhawatiran Baru
Pawai Hari Yerusalem setiap tahun menuai kritik dari komunitas internasional karena dianggap sebagai bentuk provokasi di wilayah yang secara hukum internasional masih dikategorikan sebagai wilayah pendudukan.
Masjid Al Aqsa, yang berada dalam kompleks Haram al-Sharif, merupakan salah satu situs suci umat Islam dan menjadi titik sentral ketegangan di Yerusalem Timur.
Fasilitas UNRWA, yang berada di wilayah tersebut dan berfungsi melayani kebutuhan pengungsi Palestina, juga dilaporkan terdampak oleh aktivitas pawai tersebut, meskipun belum ada pernyataan resmi dari pihak badan PBB tersebut terkait insiden kali ini.
Ketegangan di Yerusalem Timur tetap menjadi sorotan global, terutama saat aksi-aksi seperti pawai Hari Yerusalem memunculkan kekhawatiran akan eskalasi kekerasan dan pelanggaran terhadap hak-hak sipil masyarakat lokal.
Komunitas internasional, termasuk organisasi hak asasi manusia dan lembaga multilateral, diharapkan turut memantau situasi demi mencegah krisis kemanusiaan yang lebih luas.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















