BOGORTODAY.COM – Hingga Rabu sore, pemerintah Israel belum mengeluarkan tanggapan resmi atas pernyataan keras Kanselir Jerman Friedrich Merz terkait operasi militer Israel di Jalur Gaza.
Dalam pidatonya awal pekan ini di forum Europaforum yang diselenggarakan oleh Westdeutscher Rundfunk di Berlin, Merz menyebut serangan militer Israel sebagai “tragedi kemanusiaan dan bencana politik.”
Lebih jauh, Merz mempertanyakan tujuan dari operasi militer tersebut dan menyatakan bahwa Jerman, dengan segala beban sejarahnya terhadap Israel, tidak bisa diam saat hukum humaniter internasional dilanggar secara terang-terangan.
“Jika batas-batas itu dilewati, maka kanselir Jerman juga harus bersuara,” tegas Merz dalam pidatonya.
Respons Diam yang Sarat Makna
Pernyataan Merz menjadi kritik publik paling keras dari seorang pemimpin Jerman terhadap kebijakan militer Israel dalam beberapa dekade terakhir. Namun, hingga saat ini, para pejabat tinggi Israel memilih diam.
Satu-satunya respons datang dari Duta Besar Israel untuk Jerman, Ron Prosor, yang mengakui bahwa komentar Merz “memiliki bobot” karena berasal dari seorang sahabat Israel.
Meski begitu, Prosor tetap membela kebijakan negaranya, menyatakan bahwa Israel sedang menghadapi dilema tiga arah: menyelamatkan sandera, menjamin bantuan kemanusiaan, dan sekaligus melawan Hamas.
Ia menuduh kelompok Hamas menyamarkan aktivitas militer mereka di fasilitas sipil, seperti sekolah dan rumah sakit — tuduhan yang telah dibantah oleh Hamas.
Kritik Serius dari Sahabat Konservatif
Menurut Simon Wolfgang Fuchs, pakar Islam dari Universitas Ibrani Yerusalem, diamnya elite politik Israel justru menunjukkan bahwa komentar Merz dianggap serius dan menohok.
Fuchs menilai bahwa karena Merz adalah tokoh konservatif yang dikenal pro-Israel, kritik darinya tak bisa serta merta dikategorikan sebagai antisemitisme.
Media Israel pun mencermati dinamika ini. Harian liberal Haaretz menulis editorial yang menyoroti bagaimana kritik dari politisi kiri biasanya ditanggapi dengan tudingan bias antisemit, tetapi kritik dari tokoh seperti Merz justru sulit dibantah — dan karena itu lebih “berbahaya” secara politik bagi Netanyahu.
“Seperti dalam kasus Donald Trump, hanya politisi sayap kanan yang bisa memengaruhi Perdana Menteri yang keras kepala ini,” tulis Haaretz.
Tanda Kemunduran Diplomatik Israel
Pengamat hubungan internasional Peter Lintl dari lembaga Wissenschaft und Politik di Berlin menyatakan bahwa pernyataan Merz tidak bisa dilepaskan dari tren Eropa yang mulai meninjau ulang kerja sama dengan Israel.
Sejumlah negara anggota Uni Eropa mendukung peninjauan kembali Perjanjian Asosiasi dengan Israel, yang mensyaratkan penghormatan terhadap hak asasi manusia sebagai dasar hubungan bilateral.
Menurut Lintl, tekanan diplomatik terhadap Israel kini tidak hanya datang dari lawan, tetapi juga dari sekutu tradisional, termasuk beberapa senator dan pejabat AS yang sebelumnya dikenal pro-Israel.
“Perubahan nada dari Jerman pasti akan terdengar sampai Yerusalem,” kata Lintl.
Fuchs menambahkan bahwa kekhawatiran besar kini juga dirasakan masyarakat Israel sendiri, yang takut reputasi negaranya memburuk secara internasional.
“Banyak warga Israel merasa bagian dari nilai-nilai Barat, dan ingin mempertahankan ikatan itu. Tapi semakin hari, mereka khawatir negara mereka dianggap melenceng dari nilai-nilai tersebut,” ujarnya.
Dilema Internal Netanyahu
Meski mendapat tekanan dari luar, tekanan politik utama yang dihadapi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu justru berasal dari dalam negeri. Sejumlah anggota kabinetnya dari kelompok ultranasionalis menuntut pendudukan permanen atas Gaza.
Posisi Netanyahu sangat bergantung pada dukungan faksi-faksi keras tersebut, yang menjadikan kompromi politik hampir mustahil dilakukan.
Haaretz mengakhiri komentarnya dengan kritik tajam terhadap para pemimpin Jerman. Menurut harian tersebut, terlalu lama Jerman mendukung “hak eksistensi Israel” tanpa mempertanyakan bagaimana hak tersebut digunakan.
“Sebagai sahabat Israel, Merz harus memilih: apakah ia hanya ingin viral di Instagram atau sungguh-sungguh ingin menghentikan pembantaian brutal terhadap anak-anak Palestina di Gaza,” tulis Haaretz.
Kritik dari Merz menjadi momen penting dalam diplomasi Eropa-Israel. Reaksinya, atau ketiadaannya, bisa menjadi indikator perubahan besar dalam hubungan historis yang sebelumnya hampir tak tergoyahkan.***
Bagi Halaman
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















