
Faktor Global Jadi Penyebab Utama
Penurunan ini, kata Nangoi, bukan semata akibat dinamika dalam negeri. Banyak faktor eksternal yang turut memengaruhi, termasuk ketegangan geopolitik global dan perang dagang yang berlangsung antara negara-negara besar.
“Terlalu banyak faktor. Donald Trump bicara A, B, C, dampaknya sampai ke Asia Tenggara. Ketegangan Pakistan-India, konflik di Timur Tengah yang makin meluas ke Iran, sampai perang dagang antara Amerika dan China — semua ini membuat ekonomi global lesu,” ujarnya.
Menurutnya, bila eskalasi konflik antara negara-negara besar terus berkembang, risiko resesi global bahkan perang dunia ketiga bisa saja terjadi, yang tentunya akan memukul industri otomotif lebih keras lagi.
“Kalau sampai terjadi perang, ya selesai lah sebetulnya,” tegasnya.
Tantangan dan Harapan
Industri otomotif saat ini menghadapi tekanan dari berbagai arah: mulai dari melemahnya daya beli masyarakat, suku bunga tinggi, hingga ketidakpastian ekonomi global.
Semua ini membuat konsumen lebih berhati-hati dalam melakukan pembelian kendaraan baru.
Namun di tengah tantangan tersebut, industri tetap berharap ada pemulihan bertahap, terutama jika situasi global mulai stabil dan dukungan kebijakan dari pemerintah di masing-masing negara bisa memperkuat daya beli dan iklim investasi.
Dengan situasi seperti ini, pelaku industri otomotif perlu beradaptasi lebih cepat, menawarkan inovasi yang relevan, dan merespons perubahan perilaku konsumen agar tetap bertahan di tengah gejolak global yang belum menunjukkan tanda mereda.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















