Oleh :
Ana Tazkia
(Mahasiswi Program Studi Agribisnis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2024)
INDONESIA dikenal luas sebagai negara agraris dengan kekayaan alam yang melimpah, mulai dari tanah yang subur, curah hujan yang ideal, hingga keberagaman jenis tanaman yang bisa dibudidayakan sepanjang tahun.
Dengan sumber daya alam yang melimpah , seharusnya mampu menjamin kebutuhan pangan rakyatnya. Di Tengah tantangan global yang semakin kompleks, ketahanan pangan menjadi isu strategis yang tidak bisa di abaikan. Di sinilah kehadiran petani muda menjadi sangat penting sebagai harapan baru ketahanan pangan.
Namun, kenyataan besar muncul saat kita menyadari bahwa sektor pertanian kita justru menghadapi krisis regenerasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, lebih dari 60% petani di Indonesia berusia di atas 45 tahun, sementara petani berusia di bawah 35 tahun hanya sekitar 8%.
Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi masa depan ketahanan pangan nasional. Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian mulai dari krisis iklim, pandemi, konflik geopolitik, hingga lonjakan harga pangan dunia ketersediaan pangan dalam negeri menjadi isu yang sangat strategis. Maka, kehadiran generasi muda dalam sektor pertanian bukan hanya dibutuhkan, melainkan sangat mendesak.
Salah satu kendala utama rendahnya minat generasi muda terjun ke dunia pertanian adalah adanya persepsi bahwa bertani itu identik dengan pekerjaan kasar, kotor, dan berpenghasilan rendah.
Hal ini diperparah oleh kurangnya akses terhadap teknologi pertanian modern, keterbatasan modal, dan ketidakstabilan harga jual hasil pertanian. Banyak anak muda lebih memilih bekerja di sektor jasa atau industri di kota, yang dianggap lebih “berkelas” meskipun realitanya belum tentu menjamin kehidupan yang stabil.
Saya pribadi melihat banyak teman sebaya yang sejak kuliah bahkan tidak pernah mempertimbangkan bertani sebagai opsi karier, karena merasa sudah capek sekolah tinggi-tinggi lalu “cuma” jadi petani. Padahal, dengan pendekatan yang tepat, sektor pertanian justru bisa menjadi ladang inovasi yang tak kalah menjanjikan dibanding bidang lain.
Generasi muda sesungguhnya punya potensi besar untuk mentransformasi wajah pertanian Indonesia. Anak-anak muda saat ini tumbuh dengan teknologi, terbiasa mencari informasi dengan cepat, dan punya cara pandang yang lebih terbuka. Mereka bisa memanfaatkan teknologi seperti drone untuk pemetaan lahan, sensor tanah berbasis IoT, sistem pertanian presisi, hingga aplikasi marketplace yang memperpendek rantai distribusi hasil tani.
Salah satu contoh sukses adalah kisah petani milenial asal Yogyakarta, Nur Fadli, yang menggunakan sistem pertanian vertikal dan menjual sayuran organik lewat media sosial. Omsetnya bahkan mencapai puluhan juta per bulan. Hal semacam ini memperlihatkan bahwa pertanian modern tidak hanya soal menanam, tetapi juga soal kreativitas dan kemampuan membaca pasar.
Petani muda memiliki peran strategis dalam mentransformasi sektor pertanian Indonesia. Dengan kemampuan digital yang mumpuni, akses luas terhadap informasi global, serta keahlian dalam memanfaatkan teknologi pertanian terkini seperti drone, sensor tanah, sistem pertanian presisi, dan platform jual beli online hasil pertanian, mereka berpotensi menjadikan pertanian Indonesia lebih modern, efisien, dan berkelanjutan. Selain itu, generasi petani muda cenderung memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan serta pemahaman yang baik terhadap kebutuhan pasar.
Hal ini memungkinkan mereka untuk menciptakan sistem pertanian yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem dan mampu merespons dinamika permintaan konsumen secara adaptif.
Maka dari itu petani muda adalah fondasi masa depan ketahanan pangan Indonesia. Petani muda bukan hanya pengganti generasi sebelumnya, tetapi inovator yang mampu mengevaluasi cara memproduksi, mendistribusikan, dan mengelola pangan dengan cara-cara yang kreatif.
Namun, untuk mendorong lebih banyak anak muda masuk ke sektor pertanian, diperlukan upaya bersama dari berbagai pihak. Pemerintah, misalnya, sudah menjalankan beberapa inisiatif seperti program Petani Milenial, pelatihan di Sekolah Lapang, dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus pertanian. Tapi kenyataannya, akses terhadap program ini masih belum merata dan belum menyentuh seluruh daerah.
Dalam beberapa kasus, anak muda di desa bahkan belum tahu cara mengakses informasi atau prosedur untuk ikut pelatihan. Karena itu, menurut saya, perlu pendekatan yang lebih personal yaitu dengan mengaktifkan komunitas pemuda tani berbasis desa yang bisa menjadi tempat belajar sekaligus berbagi pengalaman.
Faktor internal juga tak bisa diabaikan. Banyak pemuda yang sebenarnya ingin mencoba bertani tapi terhambat oleh keterbatasan lahan, minimnya bimbingan teknis, atau bahkan tekanan keluarga yang menginginkan mereka bekerja di sektor formal.
Di sisi lain, faktor eksternal seperti globalisasi dan pertumbuhan ekonomi perkotaan juga membuat desa-desa kehilangan tenaga muda. Petani muda di negara berkembang menyebut sulitnya mengakses lahan dan permodalan sebagai hambatan utama mereka.
Ini menunjukkan bahwa ketertarikan saja tidak cukup harus ada dukungan struktural yang membuat generasi muda merasa dimampukan dan dihargai saat memilih bertani sebagai jalan hidup.
Solusi terhadap persoalan ini tidak bisa instan, tetapi perlu dibangun secara bertahap dan menyeluruh. Menurut saya, pendekatan paling penting adalah mengubah cara kita memandang petani. Narasi bahwa bertani itu kotor dan melelahkan harus diganti dengan gambaran bahwa petani adalah inovator dan pengusaha pangan.
Selain sebagai fondasi ketahanan panga, pertanian juga membuka peluang wirausahawan mandiri. Media sosial bisa menjadi alat ampuh untuk menyebarkan cerita inspiratif tentang petani muda yang berhasil, lengkap dengan tantangan dan pencapaian mereka. Hal ini penting untuk membentuk identitas baru: bahwa menjadi petani di era digital adalah sesuatu yang keren dan membanggakan.
Selain itu, penguatan kapasitas teknis juga harus didorong, terutama melalui kolaborasi antara universitas, pemerintah daerah, dan sektor swasta. Misalnya, kampus-kampus pertanian bisa membuat program inkubasi bisnis tani berbasis teknologi, yang bukan hanya mengajarkan cara menanam, tapi juga bagaimana memasarkan dan mengelola keuangan hasil tani.
Sementara itu, pemerintah dapat memperluas akses terhadap lahan tidur di desa-desa yang selama ini tidak termanfaatkan, agar bisa diolah oleh pemuda tani secara kolektif.
Penting juga untuk menyesuaikan program pelatihan dengan konteks lokal. Setiap daerah punya komoditas unggulan dan karakteristik tanah yang berbeda. Karena itu, pelatihan harus berbasis kebutuhan daerah, bukan bersifat umum.
Saya percaya, ketika anak muda merasa terhubung langsung dengan lingkungan dan komunitasnya, semangat bertani akan tumbuh secara alami. Mendorong lahirnya koperasi tani muda, memberikan pendampingan dari mentor berpengalaman, serta menciptakan jalur distribusi hasil tani yang transparan, akan sangat membantu menciptakan ekosistem pertanian yang sehat dan berkelanjutan.
Jika seluruh komponen pemerintah, masyarakat, institusi pendidikan, media, dan pemuda bekerja sama, saya yakin sektor pertanian Indonesia bisa mengalami lompatan besar. Kita tidak hanya bicara soal ketahanan pangan, tetapi juga tentang kedaulatan pangan, yaitu kemampuan kita memenuhi kebutuhan sendiri tanpa tergantung pada negara lain.
Generasi muda punya energi, kreativitas, dan semangat yang sangat dibutuhkan dalam proses ini. Dengan dukungan yang tepat, mereka bisa menjadi penggerak transformasi pertanian Indonesia menuju arah yang lebih modern, efisien, dan berkeadilan. Maka dari itu, sudah waktunya kita berhenti melihat petani muda sebagai aktor utama perubahan. ***
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















