KOLABORASI DUA KOTA TUA DI ERA MODERN MENUJU MASA DEPAN BERSAMA

Dr. Yudi Wahyudin (Wakil Rektor IV Universitas Djuanda & Kepala Pusat Kolaborasi Riset dan Advokasi Kelauatan, Lingkungan Perairan dan Perikanan)

Oleh:
Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi., M.Si.
(Wakil Rektor 4 & Kepala Pusat Kolaborasi Riset dan Advokasi Kelautan, Lingkungan Perairan dan Perikanan Universitas Djuanda)

PADA 22 Juni 2025 ini, Jakarta merayakan ulang tahunnya yang ke-498. Tanggal ini bukan sembarang hari karena merujuk pada sebuah peristiwa penting dalam sejarah Nusantara, yaitu hari dimana ketika Pangeran Fatahillah dari Kesultanan Demak menyerang pelabuhan Sunda Kalapa, pusat perniagaan yang kala itu dikuasai Portugis, pada 22 Juni 1527.

Kemenangan itu ditandai dengan penggantian nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta, yang berarti “kemenangan yang sempurna”. Sejak saat itu, setiap 22 Juni diperingati sebagai Hari Jadi Kota Jakarta, bukan hanya sebagai bentuk penghormatan atas peristiwa bersejarah, tetapi juga sebagai refleksi perjalanan panjang ibu kota Republik Indonesia ini.

Jakarta bukan satu-satunya kota yang merayakan tonggak bersejarah di bulan Juni.  Kota Bogor (kab/kota), tetangga dekat yang hanya berjarak sekitar 60 kilometer dari Jakarta, juga merayakan hari jadinya pada 3 Juni, yang pada tahun ini memasuki usia ke-543.

Penetapan tanggal 3 Juni merujuk pada peresmian Pakuan sebagai ibu kota Kerajaan Pajajaran oleh Sri Baduga Maharaja (yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi) sebagai seorang raja besar yang memerintah Tatar Sunda pada abad ke-15.

Bogor, dalam sejarahnya, merupakan pusat peradaban, pemerintahan, dan kebudayaan Sunda klasik. Dua kota besar, dua sejarah agung, dengan wilayah yang saling berdampingan. Satu kota lahir dari semangat perlawanan dan kemenangan, kota yang lain tumbuh dari warisan kerajaan yang teratur dan berpengaruh.

Jakarta dan Bogor selalu saling dipertemukan, bukan hanya sebagai pusat kekuasaan dan kekuatan militer, melainkan sebagai mitra kolaboratif dalam menghadapi tantangan modern perkotaan, lingkungan, sosial-ekonomi dan budaya.

BACA JUGA :  Netanyahu Tegaskan Israel Akan Hentikan Ancaman Iran, Sebut Rezim Teheran Tak Akan Bertahan

Jakarta dan Bogor: Sejarah yang Menyatu Sejak Dulu

Keterkaitan Jakarta dan Bogor tidak hanya terjadi di masa kini. Sejak masa kolonial, keduanya memiliki peran strategis dalam pengelolaan wilayah Hindia Belanda.

Batavia (Jakarta) menjadi pusat administrasi dan perdagangan, sementara Buitenzorg (Bogor) dijadikan tempat peristirahatan elit kolonial, termasuk Gubernur Jenderal yang memindahkan kediamannya ke Istana Bogor selama musim penghujan.

Hubungan sejarah ini semakin memperkuat posisi Bogor sebagai kota pendamping bagi ibu kota, baik dari sisi fungsional maupun simbolik.

Pasca kemerdekaan, posisi ini tetap terjaga. Bogor menjadi bagian dari kawasan penyangga ibu kota, bahkan masuk dalam konsep kawasan megapolitan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).

Hubungan kedua kota bukan hanya sekedar administratif saja, melainkan semakin bersifat fungsional dalam konteks mobilitas, perdagangan, pendidikan, dan lingkungan.

Setiap hari, lebih dari 800 ribu warga Bogor beraktivitas di Jakarta sebagai pekerja, pelajar, pedagang, maupun pelaku usaha. Warga Jakarta juga kerap menjadikan Bogor sebagai tempat beristirahat di akhir pekan, berwisata, atau mencari udara segar.  Dua kota ini menjadi satu sistem kehidupan, meski dipisahkan oleh batas administratif.

Tantangan Bersama yang Tak Lagi Bisa Dihadapi Sendiri

Kedekatan kedua kota bersejarah ini membawa tantangan tersendiri. Transportasi dan kemacetan menjadi momok utama. Jalur kereta KRL ”Commuter Line” rute BogorJakarta adalah salah satu yang terpadat di Asia Tenggara.

Jalan tol Jagorawi sering mengalami kemacetan parah pada hari-hari kerja, terutama dari Bogor menuju Jakarta di waktu pagi (berangkat kerja) dan Jakarta menuju Bogor di waktu sore hari (pulang kerja), sedangkan pada akhir pekan, arah Bogor menuju Jakarta cenderung lancar dan sebaliknya arah Jakarta menuju Bogor cenderung macet parah.

BACA JUGA :  Dada vs Paha Ayam: Mana yang Lebih Sehat? Ini Penjelasan Ahli Gizi

Hal ini salah satunya menunjukkan bahwa sistem mobilitas kawasan belum cukup terintegrasi dan adaptif terhadap pertumbuhan penduduk dan kebutuhan baru.

Krisis lingkungan juga menjadi salah satu isu lintas batas utama diantara kedua kota.  Sungai Ciliwung, yang berhulu di Puncak dan mengalir melewati Bogor hingga Jakarta, sering kali ”dianggap” menjadi penyebab banjir musiman di ibu kota.

Sampah, alih fungsi lahan, dan pembangunan liar yang terjadi, terutama di kawasan puncak, memperparah kondisi ini.  Dalam hal kualitas udara, kebakaran lahan di kawasan Bogor dan sekitarnya juga dapat memengaruhi indeks udara Jakarta.

Isu ketimpangan akses layanan publik juga muncul. Banyak warga Bogor yang menggantungkan hidupnya di wilayah Jakarta karena lebih banyak lapangan kerja, fasilitas kesehatan, dan institusi pendidikan. Namun, beban ini juga menyulitkan Jakarta, yang infrastruktur dan pelayanannya dipaksa melayani populasi jauh melebihi kapasitas administratifnya.

Kolaborasi yang Sudah Dimulai: Fondasi Menuju Sinergi

Meski tantangan begitu kompleks, Jakarta dan Bogor telah memulai sejumlah langkah kolaboratif yang patut diapresiasi. Di bidang transportasi, KRL menjadi andalan utama. Selain itu, ada wacana integrasi Transjakarta dengan angkutan umum di Bodetabek. Dalam jangka panjang, program LRT dan MRT lintas kota menjadi harapan besar untuk mengurangi beban lalu lintas.

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================