
“Nah, setiap hari itu kita ada namanya program business matching. Jadi kita lakukan pitching dulu, UMKM ini presentasi ke perwakilan kita, kemudian perwakilan kita mencarikan buyer, setelah dapat buyer, ada business matching antara UMKM dengan buyer. Nanti semua didampingi oleh perwakilan kita, oleh kami. Dan semua hanya online,” ungkapnya.
Berdasarkan data hingga Mei 2025, program ini telah memfasilitasi 450 UMKM, dengan total transaksi ekspor senilai US$68,65 juta atau sekitar Rp1 triliun.
“Itu UMKM semua dan kebanyakan dari mereka belum pernah ekspor,” katanya.
Saat ditanya soal sektor UMKM yang paling berhasil menembus pasar luar negeri, Budi menyebut bidang makanan dan minuman, kerajinan, serta produk kehutanan sebagai yang paling menonjol.
“Apa saja. Jadi kebanyakan memang yang sekarang menembus pasar ekspornya, makanan, minuman, kemudian kerajinan, produk kehutanan dan sebagainya. Tetapi kita menawarkan semua produk yang mungkin bisa masuk ekspor,” jelasnya.
Meski begitu, sebelum masuk tahap business matching, para pelaku UMKM tetap perlu menjalani proses pembinaan terlebih dahulu. Pembinaan ini dapat dilakukan oleh berbagai pihak, seperti dinas daerah, komunitas, perbankan, maupun agregator.
“Kenapa? Karena kita ingin juga dibantu mengkurasinya, menyeleksinya. Jadi kita lebih cepat, pokoknya kita langsung ngomongin pasar. Jadi barangnya sudah ada, sudah siap. Nah perwakilan kita yang di luar negeri tinggal mencarikan buyer,” tutup Budi. (mg1)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














