
Baik pihak Pentagon maupun Misi Iran di PBB belum memberikan tanggapan resmi atas temuan ini.
Sebelumnya, pada 22 Juni, setelah AS meluncurkan serangan udara yang menargetkan tiga fasilitas nuklir utama Iran, parlemen Iran disebut-sebut menyatakan dukungan untuk menutup Selat Hormuz. Namun, keputusan itu belum bersifat final karena masih menunggu persetujuan dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Selama bertahun-tahun, Iran telah beberapa kali mengancam akan memblokade selat tersebut, meskipun hingga kini belum pernah direalisasikan.
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, dan memiliki koridor pelayaran yang sempit masing-masing hanya 2 mil lebarnya untuk jalur keluar dan masuk kapal. Negara-negara penghasil minyak seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, Irak, dan Qatar sangat bergantung pada jalur ini untuk ekspor energi mereka.
Menurut laporan dari Badan Intelijen Pertahanan AS, pada tahun 2019 Iran tercatat memiliki lebih dari 5.000 ranjau laut, yang dapat dikerahkan secara cepat menggunakan kapal-kapal kecil bermanuver tinggi.
Armada Kelima Angkatan Laut AS yang bermarkas di Bahrain ditugaskan untuk mengamankan jalur strategis ini. Sebelum AS melancarkan serangan udara terhadap Iran, kapal-kapal khusus penanggulangan ranjau milik Angkatan Laut AS sempat ditarik dari wilayah tersebut sebagai langkah antisipatif terhadap potensi serangan balasan.
Iran kemudian merespons melalui serangan terbatas berupa peluncuran rudal ke salah satu pangkalan militer AS yang berlokasi di dekat Qatar. Kendati serangan berlangsung terbatas, menurut sejumlah pejabat AS, potensi serangan lanjutan dari pihak Iran masih tetap terbuka. (mg1)
Sumber: cnbcindonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















