BOGORTODAY.COM – Ketegangan antara Israel dan Lebanon kembali memanas setelah serangan udara yang menargetkan sebuah kendaraan terjadi di pintu masuk selatan Beirut, ibu kota Lebanon, pada Kamis (3/7/2025). Serangan tersebut menewaskan satu orang dan melukai tiga lainnya.
Menurut laporan dari kantor berita AFP, Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi bahwa insiden itu adalah akibat dari serangan udara Israel yang mengenai sebuah mobil di kawasan Khalde, selatan Beirut.
“Serangan musuh Israel terhadap sebuah mobil di Khalde mengakibatkan korban awal satu orang martir dan tiga orang terluka,” bunyi pernyataan resmi dari Kementerian Kesehatan Lebanon.
Serangan Dilancarkan dari Drone
Media pemerintah Lebanon menyebutkan bahwa serangan itu dilakukan menggunakan pesawat nirawak (drone) milik Israel.
Drone tersebut dilaporkan menargetkan kendaraan yang sedang melintas di jalan raya utama di daerah Khalde, yang merupakan salah satu jalur sibuk di pinggiran ibu kota.
Seorang fotografer AFP melaporkan bahwa kendaraan yang menjadi sasaran terlihat dalam kondisi hangus terbakar di tengah jalan, sementara pasukan militer Lebanon langsung menutup area sekitar lokasi serangan untuk pengamanan dan investigasi lebih lanjut.
Pernyataan Israel: Sasar Teroris Proksi Iran
Tentara Israel membenarkan bahwa pihaknya berada di balik serangan tersebut. Mereka mengklaim bahwa target adalah seorang teroris yang bekerja atas nama Pasukan Quds Iran, unit operasi luar negeri dari Garda Revolusi Iran.
“Kami telah melenyapkan seorang teroris yang bertanggung jawab atas penyelundupan senjata dan melancarkan serangan teror terhadap warga sipil Israel dan pasukan kami, atas nama Pasukan Quds Iran,” demikian pernyataan resmi dari militer Israel.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai identitas korban maupun kaitannya dengan Pasukan Quds atau kelompok Hizbullah yang beroperasi di Lebanon.
Eskalasi Baru di Tengah Gencatan Senjata
Serangan ini menjadi yang terbaru dalam serangkaian insiden yang terjadi meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak November lalu, yang bertujuan mengakhiri permusuhan selama lebih dari satu tahun antara Israel dan Hizbullah, kelompok militan Syiah Lebanon yang mendapat dukungan dari Iran.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan eskalasi baru konflik di kawasan Timur Tengah, terutama antara Israel, Lebanon, dan pihak-pihak proksi Iran.
Pemerintah Lebanon dan berbagai pihak internasional saat ini masih memantau perkembangan, sementara ketegangan antara kedua negara tampaknya belum menunjukkan tanda-tanda mereda.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Bagi HalamanFollow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















