
“Selain memberikan akses yang lebih mudah, SI PINTAR juga berhasil mengidentifikasi 17 kasus baru TBC aktif, yang langsung ditangani dengan pengobatan sesuai standar,” ungkap Ria.
Anak-anak sekolah tercatat sebagai kelompok dengan tingkat partisipasi tertinggi dalam skrining, disusul oleh dewasa muda dan ibu hamil. Tak hanya soal teknologi, program ini juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor.
“Kami berkolaborasi dengan sekolah, kader posyandu, tokoh masyarakat, dan pemerintah desa. Semua pihak punya peran dalam menekan angka TBC,” ujarnya.
Ria menambahkan, inovasi SI PINTAR mendukung gerakan nasional TOSS TBC (Temukan, Obati Sampai Sembuh) dan menjadi bagian dari transformasi menuju Smart Puskesmas. Dengan semangat inovatif dan partisipatif, program ini diharapkan bisa direplikasi di wilayah lain yang menghadapi tantangan serupa dalam penanggulangan TBC.
“Kita sedang membangun masa depan bebas TBC. Dan itu bukan hanya tugas tenaga kesehatan, tapi kita semua. SI PINTAR adalah langkah nyata ke arah sana,” pungkas Ria Suryani. (*/ Gistin Iliyyin)
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















