
Di Tanah Air, Triple Crown terdiri dari tiga seri balapan: 1.200 meter di April, 1.600 meter di Mei, dan puncaknya 2.000 meter di Juli dalam Indonesia Derby. Sejak sejarahnya dimulai, baru dua kuda yang sukses menyapu bersih semua leg—Manik Trisula (2002) dan Djohar Manik (2014).
“Realistis saja. Karena kuda-kuda di sini belum kuat jaraknya sepanjang itu,” ucap Munawir.
Beberapa kuda pernah mendekati gelar, seperti King Master, Queen Thalassa, dan Lady Aria, namun selalu gagal di salah satu tahap.
Kini muncul harapan baru: King Argentine telah memenangi dua seri awal Triple Crown Indonesia. Jika ia bisa menaklukkan Indonesia Derby pada 27 Juli 2025, namanya akan tercatat sebagai kuda ketiga dalam sejarah tanah air yang meraih mahkota suci ini.
“Triple Crown menuntut daya tahan luar biasa kuda, konsistensi tak tergoyahkan, strategi cermat, dan kesiapan menghadapi tantangan cuaca, cedera, bahkan fluktuasi psikologis seekor kuda,” jelas Munawir.
Triple Crown bukan sekadar tes kecepatan, melainkan pengejawantahan harmonis antara stamina, teknik, mentalitas, dan strategi jangka panjang. Ini adalah pencapaian tertinggi yang hanya mampu diraih oleh yang paling luar biasa.
Publik pencinta pacuan kuda akan menyaksikan momen bersejarah akhir Juli nanti. King Argentine berada di ambang pencapaian besar—apakah ia akan berdiri sejajar dengan legenda, atau justru hanya jadi bagian dari kisah yang nyaris berhasil? (mg1)
Sumber: inews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















