
Moskow juga mengklaim lebih banyak wilayah di Ukraina bagian timur, sembari terus menggempur negara itu dengan serangan gabungan yang melibatkan drone, artileri, dan rudal.
Pekan ini, Trump mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan NATO soal pasokan sistem pertahanan udara dan persenjataan AS ke Ukraina.
Tak hanya itu, ia juga mengancam Rusia dengan sanksi dan tarif sekunder sebesar 100 persen terhadap pembeli ekspor Moskow, yang sebagian besarnya adalah minyak mentah.
Tarif sekunder ini menargetkan mitra dagang Rusia yang tersisa, yang tampaknya menjadi upaya melumpuhkan kemampuan Moskow bertahan dari sanksi Barat yang sudah sangat berat.
Semua langkah keras AS ini diumumkan saat Trump semakin frustrasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang menolak gencatan senjata dan justru semakin mengintensifkan serangan ke Ukraina.
Tanggapan Rusia: Tak Terpengaruh Ultimatum Trump
Dalam tanggapannya, Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menyatakan Kremlin “tidak peduli” dengan ancaman Trump yang disebutnya sebagai “ultimatum teatrikal” itu.
Sementara itu, Putin menegaskan tidak terpengaruh oleh ancaman Trump dan bertekad untuk terus berperang di Ukraina hingga Barat memenuhi persyaratan perdamaian yang dituntut Rusia.
Situasi di Ukraina semakin memanas, dengan serangan yang terus berlanjut di tengah ketegangan diplomatik dan ancaman sanksi baru dari AS. Belum jelas bagaimana perkembangan ini akan memengaruhi jalur konflik ke depannya.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














