Misteri Prabu Siliwangi: Sosok Tunggal atau Gelar untuk Delapan Raja?

Prabu Siliwangi
Foto: ilustrasi-prabu-siliwangi

BOGORTODAY.COM Prabu Siliwangi dikenal luas sebagai raja besar yang membawa kejayaan bagi Kerajaan Sunda, terutama saat memimpin Kerajaan Pajajaran.

Sosoknya telah menjadi simbol kebesaran masyarakat Sunda, dihormati bahkan hingga kini sebagai tokoh legendaris yang lekat dengan cerita kepahlawanan, spiritualitas, dan kejayaan masa lalu.

Namun, di balik kemasyhuran namanya, muncul pertanyaan menarik: apakah Prabu Siliwangi adalah satu orang atau sebuah gelar yang diwariskan?

Sri Baduga Maharaja dan Popularitas Nama Siliwangi

Dalam literatur populer, Prabu Siliwangi sering diidentikkan dengan Sri Baduga Maharaja, raja yang disebut-sebut membawa Kerajaan Pajajaran pada puncak kejayaan, baik dalam hal kesejahteraan rakyat maupun pembangunan infrastruktur. Ia dikenal sebagai pemimpin bijaksana, arif, dan adil.

Namun, sejarawan dan filolog Prof. Ayatrohaedi mengajukan pandangan berbeda. Berdasarkan Naskah Wangsakerta dan Carita Parahiyangan, disebutkan bahwa Prabu Siliwangi bukan hanya satu orang, melainkan gelar kehormatan yang disandang oleh delapan raja Sunda, mirip seperti gelar Prabu Brawijaya yang digunakan oleh beberapa raja Majapahit.

Delapan Raja Bergelar Prabu Siliwangi

Pandangan ini juga diperkuat oleh Fery Taufiq El Jaquene dalam bukunya Hitam Putih Pajajaran: Dari Kejayaan Hingga Keruntuhan Kerajaan Pajajaran.

BACA JUGA :  7 Ciri Orang Berjiwa Tua, Lebih Menyukai Makna Hidup daripada Tren Sesaat

Ia menulis bahwa delapan raja Sunda memegang gelar Prabu Siliwangi, dimulai dari Niskala Wastu Kancana hingga Suryakancana sebagai Prabu Siliwangi VIII.

Satu nama penting yang tidak termasuk dalam daftar ini adalah Mangkubumi Bunisora, karena dianggap sebagai raja penyelang atau bukan bagian dari garis resmi pewaris gelar.

Mengapa Nama Siliwangi Melekat pada Sri Baduga?

Meski gelar Prabu Siliwangi digunakan oleh beberapa raja, masyarakat Sunda cenderung memusatkan identitas Prabu Siliwangi pada figur Sri Baduga Maharaja.

Menurut sejarawan, hal ini disebabkan oleh kebesaran dan wibawa Sri Baduga yang begitu tinggi, hingga masyarakat enggan menyebut nama aslinya secara langsung.

“Menurut carita puisi, kebesaran Sri Baduga Maharaja menjadikan masyarakat Sunda segan menyebut nama aslinya, maka juru pantun berinisiatif dengan memopulerkan sebutan Siliwangi sebagai sebutan sang raja,” tulis Fery Taufiq.

Dengan demikian, sebutan Prabu Siliwangi menjadi populer dan melekat kuat pada satu sosok, yaitu Sri Baduga Maharaja—meskipun sejatinya adalah gelar yang lebih luas dalam konteks sejarah Sunda.

Petikan dari Naskah Wangsakerta

Dalam Naskah Wangsakerta, terdapat kalimat penting yang berbunyi:

BACA JUGA :  Kejagung Geledah Kantor BGN, Pemerintah Minta Publik Hormati Proses Hukum

Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dedyeka dudu ngaran swaraga nira.

Yang artinya:

Hanya orang Sunda, Cirebon, dan Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi sebagai Raja Pajajaran. Itu bukan nama sebenarnya.

Kalimat ini menegaskan bahwa nama Prabu Siliwangi bukanlah nama asli, melainkan sebuah identitas budaya dan simbol kehormatan yang dilekatkan oleh masyarakat terhadap raja yang mereka hormati.

Prabu Siliwangi, dalam sejarah Sunda, bukanlah sekadar nama raja, melainkan simbol kekuasaan, kejayaan, dan identitas kultural.

Meski sejarah mencatat delapan raja yang memegang gelar tersebut, Sri Baduga Maharaja tetap menjadi figur sentral yang paling dikenang dan dikultuskan sebagai Prabu Siliwangi sejati.

Legenda dan sejarah berpadu dalam sosok ini, membuatnya tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Sunda sebagai lambang kejayaan masa lalu yang penuh nilai-nilai luhur dan kearifan lokal.***

Sumber: iNews

Follow dan Baca Artikel lainnyadi Google News atau whatsapp channel

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================