Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Tegaskan Larangan Study Tour Meski Dihadang Aksi Demo Pelaku Wisata

Dedi Mulyadi
Aksi Demo Pelaku Wisatamenuntut pencabutan Surat Keputusan (SK) Larangan Study Tour di depan Gedung Sate, Bandung. (Foto: detikcom)

BOGORTODAY.COM – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akhirnya buka suara menanggapi aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh pelaku usaha pariwisata di depan Gedung Sate, Bandung.

Para pendemo menuntut pencabutan Surat Keputusan (SK) Larangan Study Tour, yang sebelumnya dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Dedi menyebut bahwa demo tersebut sempat menyebabkan kemacetan dan blokade jalan di jembatan Pasupati.

Ia menegaskan bahwa peserta aksi mayoritas berasal dari sektor pariwisata seperti penyelenggara travel, pengusaha bus, hingga sopir bus wisata.

Uniknya, aksi ini juga melibatkan pelaku wisata dari luar provinsi. “Yang ikut demo ternyata juga dari luar Jawa Barat, seperti para pengemudi jip Lava Tour Merapi dari Sleman, DI Yogyakarta. Mereka merasa pendapatannya turun karena larangan study tour,” ujar Dedi.

BACA JUGA :  PWI Kabupaten Bogor Gelar Safari Jurnalis 2026 di Cisarua, Dorong Literasi Digital Masyarakat

Study Tour = Kegiatan Piknik?

Gubernur Dedi menjelaskan bahwa larangan tersebut hanya berlaku untuk study tour yang dilakukan oleh sekolah, bukan melarang seluruh kegiatan wisata secara umum.

“Yang saya larang adalah kegiatan study tour, bukan industri pariwisata. Justru dari demo ini makin kelihatan bahwa ‘study tour’ itu sebenarnya kegiatan piknik, bukan benar-benar kegiatan edukatif,” tegasnya.

Menurutnya, aksi ini justru memperjelas bahwa kegiatan yang selama ini diklaim sebagai bagian dari proses pembelajaran, ternyata sarat unsur rekreasi.

Fokus pada Pendidikan dan Efisiensi Biaya

Dedi tetap bersikukuh mempertahankan larangan study tour demi melindungi kepentingan masyarakat luas, terutama orang tua siswa yang kerap terbebani biaya perjalanan yang mahal.

“Saya berpihak pada rakyat, khususnya orang tua murid. Mereka seringkali terbebani biaya yang besar untuk kegiatan yang tidak terkait langsung dengan pendidikan karakter maupun pertumbuhan pendidikan Panca Waluya,” jelas Dedi.

BACA JUGA :  Resep Bubur Sumsum Pandan Creamy untuk Sarapan, Lembut dan Harum Menggugah Selera

Dedi juga mengajak pelaku pariwisata untuk berfokus pada wisatawan yang memang secara ekonomi mampu, seperti turis asing atau pengunjung domestik berdaya beli tinggi, bukan mengandalkan pelajar sebagai pasar utama.

“Biarlah industri pariwisata tumbuh dari wisatawan yang benar-benar punya kemampuan ekonomi, bukan dari keluarga pas-pasan yang terpaksa ikut piknik karena tekanan sosial,” pungkasnya.

Latar Belakang Larangan Study Tour

Larangan study tour yang dikeluarkan Gubernur Jawa Barat muncul setelah beberapa insiden kecelakaan yang melibatkan rombongan pelajar saat melakukan perjalanan wisata.

Pemerintah memutuskan untuk membatasi kegiatan luar sekolah yang tidak bersifat edukatif guna menjamin keselamatan dan efisiensi biaya pendidikan.***

Sumber: detikcom

Follow dan Baca Artikel lainnyadi Google News atau whatsapp channel

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================