Paus Leo XIV Kirim Kardinal ke Gaza, Desak Perlindungan Warga Sipil Palestina

Paus Leo XIV
Paus Leo XIV. (REUTERS/Yara Nardi)

BOGORTODAY.COM – Vatikan menunjukkan sikap tegas terhadap agresi Israel di Jalur Gaza, khususnya setelah serangan militer Israel menghantam Gereja Keluarga Kudus (Holy Family Church) — satu-satunya gereja Katolik di Gaza — yang menewaskan tiga orang, termasuk Pastor Gabriele Romanelli, imam paroki yang dikenal rutin melaporkan kondisi Gaza kepada mendiang Paus Fransiskus.

Paus Leo XIV mengutuk keras serangan tersebut, menyebutnya sebagai tindakan brutal dan “kebiadaban perang.” Ia bahkan secara eksplisit menyatakan bahwa serangan itu dilakukan oleh tentara Israel, memperlihatkan perubahan nada yang lebih tegas dibandingkan pernyataan Vatikan sebelumnya dalam konflik Israel-Palestina.

“Dengan duka yang mendalam, Patriarkat Latin bisa mengonfirmasi dua orang tewas dalam serangan yang tampaknya dilakukan pasukan Israel ke Kompleks Keluarga Kudus pagi ini,” demikian kutipan pernyataan resmi Vatikan seperti dilaporkan AFP.

Paus Leo XIV Telepon Mahmoud Abbas, Desak Perlindungan Warga Sipil

Pada Senin, 21 Juli, Paus Leo XIV mengadakan pembicaraan resmi dengan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas. Ini merupakan percakapan pertama keduanya sejak Leo XIV menjabat sebagai Paus.

Dalam pembicaraan tersebut, Paus menegaskan kembali pentingnya hukum humaniter internasional ditegakkan, termasuk larangan penggunaan kekuatan secara sewenang-wenang, pemindahan paksa warga sipil, dan perlindungan terhadap tempat ibadah.

BACA JUGA :  Daftar Game Baru yang Rilis Juni 2026, Remake Legendaris Siap Ramaikan Pasar

“Bapa Suci kembali menegaskan seruannya agar hukum humaniter internasional dihormati sepenuhnya, khususnya kewajiban melindungi warga sipil dan tempat-tempat suci,” tulis pernyataan Vatikan yang dikutip Vatican News.

Paus juga menyoroti pentingnya akses bantuan kemanusiaan bagi warga Gaza yang terdampak dan mendesak dunia internasional untuk ikut menjamin keselamatan kelompok rentan di wilayah konflik tersebut.

Reaksi Israel dan Sikap Tegas Vatikan

Serangan ke gereja itu langsung menuai kecaman global. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menelepon Paus Leo XIV beberapa jam setelah insiden tersebut dan menyampaikan penyesalan mendalam atas serangan itu.

Netanyahu berdalih bahwa rudal yang menghantam gereja merupakan “rudal nyasar” dan menjanjikan penyelidikan penuh.

Meski disebut berlangsung dalam suasana “bersahabat”, namun pernyataan dari tokoh senior Vatikan menyiratkan keraguan atas versi Israel.

Kardinal Pietro Parolin, Sekretaris Negara Vatikan, dalam wawancaranya dengan RAI 2, menyatakan bahwa hasil penyelidikan perlu dipublikasikan untuk membuktikan apakah benar insiden itu “kesalahan,” atau malah tindakan yang disengaja.

“Apakah itu benar-benar sebuah kesalahan, yang secara sah bisa kita ragukan, atau justru ada niat untuk menyerang gereja Kristen secara langsung,” ujarnya.

Kardinal Vatikan Kunjungi Gaza, Tunjukkan Solidaritas

Sebagai bentuk solidaritas nyata, Vatikan mengirim Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, ke Jalur Gaza.

BACA JUGA :  Drone Iran Hantam Bandara Kuwait, Aktivitas Penerbangan Sempat Lumpuh

Kunjungan tersebut tergolong langka dan dilakukan untuk menemui korban selamat, memberikan dukungan rohani, serta memimpin misa di lokasi yang dibombardir.

“Kami bukan sasaran. Mereka bilang ini sebuah kesalahan, tapi hampir semua orang di sini tidak percaya itu benar,” ujar Kardinal Pizzaballa dalam wawancaranya dengan Corriere della Sera.

Nada Baru Vatikan terhadap Agresi Israel

Langkah-langkah yang diambil Paus Leo XIV menandai perubahan besar dalam sikap Vatikan terhadap konflik di Timur Tengah, khususnya menyangkut tindakan militer Israel.

Jika sebelumnya Vatikan memilih sikap diplomatis dan netral, kali ini Paus Leo XIV secara terbuka menyebut pelaku serangan dan menuntut pertanggungjawaban.

Dengan menghubungi Presiden Palestina, mengutuk eksplisit militer Israel, serta mengirim kardinal ke lokasi serangan, Vatikan menyampaikan pesan kuat: kekerasan terhadap tempat suci dan warga sipil tak bisa dibenarkan dalam alasan apapun.

Langkah-langkah ini tidak hanya menunjukkan empati, tetapi juga memberi harapan baru bagi umat Katolik dan rakyat Palestina yang selama ini merasa tak terlihat dalam konflik yang telah berlangsung puluhan tahun.***

Follow dan Baca Artikel lainnyadi Google News atau whatsapp channel

Bagi Halaman

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================