
“Meng Ki disuruh pulang dengan pesan yang ditulis di atas dahinya,” ungkap Slamet Muljana.
Tindakan ini menyulut kemarahan Kubilai Khan. Sebagai balasannya, ia mempersiapkan pasukan perang dari Mongolia untuk menginvasi Jawa — sebuah ekspedisi militer yang akhirnya terjadi pada 1292.
Ekspedisi Tartar ke Jawa: Misi Pembalasan, Bukan Undangan
Sejumlah sumber sejarah seperti Kakawin Nagarakretagama, Pararaton, Kidung Harsa Wijaya, dan Panji Wijayakrama menyebutkan bahwa ekspedisi tentara Tartar ke Jawa bukan karena undangan Raden Wijaya atau Adipati Wiraraja, seperti yang kerap disalahartikan.
“Mereka datang di Jawa untuk menghukum Raja Kertanagara atas penghinaan terhadapnya,” tulis Slamet Muljana.
Warisan Perlawanan Kertanagara
Meski pada saat ekspedisi tersebut Kertanagara telah wafat akibat pemberontakan Jayakatwang, penolakannya terhadap dominasi asing tetap tercatat sebagai peristiwa penting dalam sejarah Asia Tenggara.
Langkah berani Kertanagara membuktikan bahwa kerajaan di Nusantara mampu berdiri tegak melawan kekuatan global.
Ia mempertahankan martabat, kedaulatan, dan identitas budaya bangsanya dari tekanan kekuatan asing yang begitu besar.
Penolakan Kertanagara terhadap Kubilai Khan adalah simbol keberanian dan kedaulatan politik kerajaan Nusantara di tengah gelombang ekspansi kekaisaran Mongol.
Keputusan tersebut menjadi tonggak sejarah yang membentuk semangat perlawanan terhadap dominasi luar — sebuah warisan yang terus dikenang dalam perjalanan sejarah Indonesia.***
Sumber: iNews
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















