
“Prosedur ini tidak membutuhkan sayatan besar, cukup tusukan kecil dengan panduan USG, lalu kita arahkan energi panas tepat ke dalam nodul,” jelas Dicky. “Hasilnya, benjolan mengecil, fungsi tiroid tetap terjaga, dan pasien bisa langsung pulang di hari yang sama.”
Dicky menyebut, RFA cocok untuk nodul jinak yang telah dikonfirmasi lewat biopsi jarum halus (FNAB), menimbulkan gejala tekanan, mengganggu estetika, atau menyebabkan hipertiroidisme.
Prosedur ini tidak dianjurkan pada pasien hamil, nodul dekat struktur vital seperti pita suara, atau nodul yang belum terdiagnosis pasti.
Prosedur RFA berlangsung selama 30–60 menit di bawah anestesi lokal. Pasien hanya mengalami nyeri ringan atau memar dan dapat kembali beraktivitas keesokan harinya.
“Risiko komplikasi RFA sangat kecil, apalagi jika dilakukan oleh dokter berpengalaman. Tapi tetap harus ada evaluasi menyeluruh sebelum tindakan,” ujarnya.
Meski umumnya bukan untuk kanker, RFA bisa menjadi pilihan pada kasus tertentu seperti mikrokarsinoma tiroid atau kanker yang muncul kembali di lokasi sulit dioperasi. Namun, keputusan penggunaan RFA harus melalui pertimbangan dan diskusi tim medis.***
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















