
Ia pun mengajak masyarakat untuk membeli beras di pasar tradisional yang secara kasat mata bisa dilihat langsung, serta juga terdiri dari berbagai alternatif harga yang bisa dijangkau oleh masyarakat dengan kualitas yang sesuai.
“Ya kalau memang beras premium ya isinya beras premium, jangan sampai beras premium dioplos dengan beras medium harganya premium. Beritanya sudah ada, merk merknya juga sudah jelas kemudian distributor produsen nya juga sudah ada . Ya kita hindari itu,” tutur Dedie Rachim.
Keberadaan beras oplosan yang ramai di tingkat nasional ini pun berdampak pada para penjual beras.
Sehingga, para pedagang merasa bersyukur ketika ada pengecekan langsung dari pemerintah untuk menginformasikan beras yang ada di pasar tradisional bebas dari beras oplosan.
Pedagang Beras di Pasar Sukasari, Isam, mengaku sempat khawatir atas adanya isu beras oplosan tersebut.
Namun, dirinya selalu memastikan kepada pembeli bahwa beras yang dijualnya sesuai dengan harga dan kualitas.
“Sangat meresahkan karena (oplosan itu) berasnya dilihat bagus dimasak nggak enak. Banyak (pembeli) yang nanya, saya pastikan di sini tidak ada beras oplosan,” ujarnya.
Ia pun menegaskan, bahwa beras yang ia jual sesuai dan tidak dioplos.
“Kita tidak pernah jual beras seperti itu. Mudah-mudahan yang suka ngoplos cepat sadar karena merugikan,” ujarnya.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















