
BOGORTODAY.COM – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor mencatat sebanyak 13 warga terinfeksi penyakit Leptospirosis atau bakteri kencing tikus sejak tahun 2018 hingga 2025. Dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia.
Ketua Tim Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kabupaten Bogor, Dr. Yessi Desputri MKK, mengatakan penyebaran penyakit ini umumnya terjadi setelah banjir, karena bakteri masuk ke tubuh manusia melalui luka terbuka yang bersentuhan dengan air tercemar.
“Leptospirosis ditularkan melalui urin hewan yang terinfeksi, terutama tikus. Penularan bisa terjadi jika air yang tercemar masuk melalui luka, kulit lecet, atau selaput lendir,” kata Yessi, Sabtu (2/8/2025).
Dari 13 kasus yang tercatat, 10 orang berhasil sembuh setelah mendapatkan penanganan medis. Sementara itu, risiko kematian pada penderita meningkat akibat keterlambatan dalam mengenali dan menangani gejala penyakit.
“Gejalanya sering tidak khas, sehingga banyak pasien datang dalam kondisi sudah parah,” ujarnya.
Yessi menjelaskan, gejala awal penyakit ini meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot—terutama di betis—batuk, sakit tenggorokan, hingga diare. Ia mengimbau masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala tersebut.
“Kalau tidak cepat ditangani, Leptospirosis bisa menyerang organ-organ vital seperti ginjal, paru-paru, dan hati. Hal inilah yang menyebabkan kematian pada kasus berat,” jelasnya.
Bagi HalamanEditor : Bas
Wartawan : Rifki Ramadhan
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















