Pemberontakan Ranggalawe: Awal Pertumpahan Darah dalam Sejarah Majapahit

BOGORTODAY.COM Pemberontakan Ranggalawe di Tuban menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah awal berdirinya Kerajaan Majapahit.

Konflik ini tidak hanya menggambarkan pertarungan fisik, tetapi juga intrik politik yang melibatkan tokoh-tokoh utama kerajaan yang baru berdiri tersebut.

Ranggalawe adalah seorang bangsawan Tuban yang memiliki loyalitas tinggi terhadap Dyah Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.

Namun kesetiaan itu berubah menjadi kemarahan setelah Dyah Wijaya, yang kemudian bergelar Raden Wijaya, memilih Nambi sebagai Patih kerajaan, bukan Lembu Sora—sahabat sekaligus tokoh yang dianggap Ranggalawe lebih layak karena jasa-jasanya.

Merasa keputusan itu tidak adil, Ranggalawe pulang ke Tuban dengan hati penuh kekecewaan. Di sinilah titik awal konflik bermula.

Dalam Serat Pararaton, disebutkan bahwa Mahapati Halayuda menghasut Nambi, menuduh Ranggalawe tengah merencanakan pemberontakan terhadap kekuasaan Raden Wijaya. Tuduhan ini memperkeruh suasana dan membuat Raden Wijaya segera bertindak.

BACA JUGA :  Jetour T2 i-DM Siap Meluncur di Indonesia, SUV Plug-in Hybrid dengan Jarak Tempuh Tembus 1.000 Km

Menanggapi kabar itu, Raden Wijaya memerintahkan tiga panglima kepercayaannya—Nambi, Lembu Sora, dan Mahisa Nabrang—untuk membawa pasukan menuju Tuban. Bentrokan pun tak terhindarkan.

Dikutip dari buku Hitam Putih Kekuasaan Raja-Raja Jawa: Intrik, Konspirasi, Perebutan Harta, Tahta dan Wanita, pasukan Ranggalawe sempat meninggalkan Tuban untuk menghindari konflik langsung.

Namun saat hendak menyeberangi Sungai Tambak Beras yang sedang pasang, mereka dikejar oleh pasukan Majapahit dan terpaksa mundur.

Keesokan harinya, pasukan Majapahit berhasil menyeberangi sungai dan mengepung wilayah Tuban. Mendapat laporan dari bawahannya, Mantri Gagarangan dan Tambak Baya, Ranggalawe naik pitam dan memutuskan untuk bertempur.

BACA JUGA :  7 Cara Menjaga Dapur Tetap Rapi Saat Memasak, Anti Berantakan dan Lebih Nyaman

Ia turun ke medan laga mengendarai kuda kesayangannya, Mega Lamat, sedangkan Nambi datang dengan kuda Brahma Cikur.

Pertarungan antara Ranggalawe dan Nambi berlangsung sengit. Dalam duel tersebut, Ranggalawe berhasil melukai kuda Nambi, membuatnya terjatuh dan melarikan diri. Ranggalawe lalu mengejar hingga ke Sungai Tambak Beras.

Di titik inilah kekuatan pasukan Majapahit melemah dan mengalami kekalahan. Panji kebesaran kerajaan pun jatuh di medan perang—simbol kegagalan dalam menghadapi perlawanan dari salah satu putra terbaiknya sendiri.

Pemberontakan Ranggalawe menjadi gambaran betapa rapuhnya stabilitas politik di masa awal Majapahit.

Perselisihan soal jabatan dan loyalitas yang bergeser bisa dengan cepat berubah menjadi pertumpahan darah, bahkan sebelum Majapahit mencapai puncak kejayaannya.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : iNews

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================