BOGORTODAY.COM – Kerupuk bukan sekadar makanan ringan renyah yang jadi pelengkap nasi atau lauk.
Lebih dari itu, kerupuk sudah menjadi bagian penting dalam budaya kuliner Indonesia. Dari meja makan sehari-hari sampai panggung lomba 17 Agustus, kerupuk selalu punya tempat spesial.
Kerupuk Sudah Ada Sejak Abad ke-9
Menurut sejarawan kuliner Fadly Rahman, kerupuk sudah hadir di Pulau Jawa sejak abad ke-9 atau ke-10.
Bukti keberadaan awal kerupuk bisa dilihat dari Prasasti Batu Pura yang mencatat keberadaan kerupuk rambak, yakni kerupuk yang dibuat dari kulit sapi atau kerbau.
Proses pembuatannya tidak mudah. Kulit harus dibersihkan dari bulu dan selaput, direbus hingga empuk, dipotong sesuai ukuran, lalu dijemur sampai benar-benar kering sebelum digoreng menjadi kerupuk renyah.
Penyebaran ke Nusantara dan Semenanjung Melayu
Kerupuk kemudian berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah Nusantara. Bahkan, pada abad ke-19, jejak kerupuk juga ditemukan di Semenanjung Melayu. Dalam naskah karya Abdul Kadir Munsyi, tercatat istilah keropok yang merujuk pada kerupuk.
Kerupuk saat itu bukan hanya populer di kalangan masyarakat Melayu, tetapi juga digemari tentara Belanda pada masa penjajahan. Sejak itulah, kerupuk makin dikenal sebagai makanan pelengkap khas Nusantara.
Pengusaha Kerupuk Pertama di Indonesia
Perjalanan kerupuk sebagai industri dimulai pada awal abad ke-20. Pada tahun 1930, muncul pengusaha kerupuk terkenal asal Tasikmalaya, Sahidin dan Sukarma.
Mereka berjualan kerupuk di Jalan Kopo, depan Rumah Sakit Emanuel Bandung, dan usaha mereka begitu sukses hingga nama keduanya diabadikan menjadi nama jalan. Dari pabrik kerupuk milik Sahidin dan Sukarma pula banyak buruh yang kemudian mandiri dan membuka usaha kerupuk sendiri.
Filosofi Kerupuk dalam Lomba 17 Agustus
Selain soal rasa, kerupuk juga punya makna simbolis dalam sejarah Indonesia. Dalam perayaan Hari Kemerdekaan, lomba makan kerupuk selalu jadi favorit masyarakat.
Ternyata, pemilihan kerupuk sebagai ikon lomba punya filosofi mendalam. Kerupuk merepresentasikan kesederhanaan rakyat di masa penjajahan, ketika banyak orang hanya bisa makan nasi dengan kerupuk untuk bertahan hidup.
Lomba makan kerupuk mengingatkan generasi sekarang pada perjuangan dan kondisi sulit masa lalu. Lewat lomba ini, masyarakat diajak untuk mensyukuri kemerdekaan sekaligus tetap menjaga semangat kebersamaan.
Kerupuk bukan cuma soal renyahnya saat digigit. Dari prasasti kuno, meja makan rakyat, hingga arena lomba 17 Agustus, kerupuk adalah cerita panjang tentang budaya, ketahanan, dan identitas Indonesia.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















