
Arie menegaskan bahwa UI tetap memegang teguh konstitusi negara yang mendukung kemerdekaan bangsa Palestina. Ia mencontohkan sikap UI yang ditunjukkan saat rektor menemui Duta Besar Palestina pada Januari 2025 lalu.
“Kami memahami reaksi dan keprihatinan publik yang mungkin muncul akibat orasi salah seorang akademisi tamu. Kasus ini menjadi pembelajaran sekaligus perhatian positif bagi UI agar lebih selektif dan sensitif dalam mempertimbangkan berbagai aspek saat mengundang akademisi internasional di masa mendatang,” jelasnya.
Seleksi Narsum Jadi Sorotan
UI mengaku saat memilih kandidat pembicara, nama Berkowitz dipandang sebagai salah satu akademisi terbaik dari luar negeri dalam bidang terkait, sejajar dengan Dr. Ir. Sigit P. Santosa (PT Pindad, Alumni MIT). Namun, pihak kampus mengakui kelalaian dalam meneliti rekam jejak dan latar belakang politik pembicara.
“Dengan segala kerendahan hati, UI mengakui kurang hati-hati. Untuk itu UI meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh rakyat Indonesia atas kekhilafan dalam kekurangcermatan saat melakukan background check,” ucap Arie.
Sensitivitas Isu Palestina
Kasus ini kembali menegaskan betapa sensitifnya isu Palestina-Israel di Indonesia. Muhammadiyah menilai bahwa kampus, sebagai ruang intelektual, tetap harus berhati-hati agar tidak menyinggung nilai-nilai yang dijunjung tinggi masyarakat Indonesia, khususnya terkait dukungan pada kemerdekaan Palestina.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















