
Menurutnya, aduan dari masyarakat cukup beragam. Sebagian warga mengeluhkan polusi debu saat musim kemarau, sementara ketika hujan turun, jalan menjadi licin dan rawan membahayakan pengguna jalan.
“Intinya, kami ingin kenyamanan, keamanan, dan kebersihan lingkungan tetap terjaga. Itu yang paling penting,” ucapnya.
Yanuar menuturkan, dampak aktivitas galian tersebut dirasakan warga sepanjang jalur kurang lebih 3 kilometer, mulai dari RW 1 hingga RW 3, yang mencakup 15 RT.
Ia menekankan, apabila pengembang tetap ingin melanjutkan pembangunan, harus ada kesepakatan dan kontribusi nyata bagi warga sekitar. Namun sejak 25 Agustus 2025 kemarin pihaknya telah menyetop aktivitas galian tersebut.
“Ketika tanah diangkut, harus ada kebijakan atau toleransi. Minimal masyarakat dapat kontribusi, baik untuk kebutuhan lingkungan,” tandasnya.
Editor : Ilham Ariyansyah
Wartawan : Ilham Ariyansyah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















