
Studi ini juga menunjukkan bahwa hilangnya lapangan kerja paling banyak terjadi di peran yang bisa sepenuhnya diotomatisasi AI dengan sedikit intervensi manusia. Namun, di sektor yang menjadikan AI sebagai pendukung kerja—seperti membantu belajar, meninjau, atau meningkatkan kinerja—kesempatan kerja malah bertambah.
“Dalam jenis pekerjaan yang sifatnya lebih terbantu AI, tidak terlihat adanya penurunan lowongan. Bahkan, ada peningkatan peluang, termasuk bagi pekerja muda,” jelas Chanda.
Temuan tersebut juga sejalan dengan pergeseran minat di pendidikan tinggi, khususnya bidang yang terpapar AI. Jurusan Ilmu Komputer di AS, yang sebelumnya naik empat kali lipat antara 2005 hingga 2023, kini hanya tumbuh 0,2% pada tahun ini. Bidang ini dianggap sebagai salah satu yang paling terimbas AI.
Meski begitu, jika merujuk pada sejarah, perubahan besar akibat teknologi biasanya akan menemukan titik keseimbangan. Awalnya memang banyak pekerjaan yang tergantikan, tetapi kemudian muncul profesi baru. “Secara historis, ketika teknologi menggantikan pekerjaan lama, selalu ada jenis pekerjaan baru yang tercipta,” pungkas Chanda.(mg2)
Editor : Jihan Muheri
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















