
Setelah itu, aliran uap dan partikel sisa masih disaring kembali di tabung secondary cyclone.
Pada tahap ini, sekitar 0,2 hingga 0,3 persen residu tambahan kembali ditangkap sebelum masuk ke ruang pembuangan akhir atau cam.
Tabung ini juga dilengkapi dengan sistem pendingin berbasis air agar mesin tetap stabil dan tidak mengalami overheat saat beroperasi.
Menurut Ade Ruhandi, keberadaan mesin ini diharapkan mampu menjadi solusi nyata dalam penanganan persoalan sampah di Kabupaten Bogor.
“Dengan kapasitas 10 ton per hari, fasilitas ini bisa membantu mengurangi penumpukan sampah sekaligus menjadi tempat studi banding bagi pihak lain yang ingin mempelajari teknologi serupa,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pemkab Bogor berkomitmen mendukung inovasi pengolahan sampah yang ramah lingkungan.
Selain sebagai upaya menjaga kebersihan wilayah, teknologi ini juga berpotensi membuka peluang riset serta kerja sama antar daerah dalam mencari solusi berkelanjutan untuk permasalahan sampah.
Wartawan : Ilham Ariyansyah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















