BOGORTODAY.COM – Diabetes atau penyakit gula terjadi ketika tubuh tidak bisa memproduksi maupun memakai insulin secara efektif. Kondisi ini membuat gula darah tinggi dan dapat menimbulkan gejala seperti kesemutan. Umumnya, diabetes terbagi menjadi tipe 1 dan tipe 2.
Diabetes tipe 1 terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel penghasil insulin. Sedangkan pada diabetes tipe 2, tubuh menjadi resisten terhadap insulin atau produksi insulin berkurang.
Salah satu gejala yang sering dialami penderita diabetes adalah kesemutan. Namun, bagaimana gejala ini bisa muncul?
Kesemutan pada penderita diabetes biasanya disebabkan oleh neuropati, yaitu kerusakan pada saraf. Kondisi ini dapat muncul akibat kadar gula darah tinggi yang berlangsung dalam jangka panjang.
Menurut spesialis saraf dr. Wisnu Nalendra Tama, SpS(K), kebas pada penderita neuropati diabetes biasanya bersifat terus-menerus. Sementara kesemutan dan sensasi seperti tersetrum lebih sering muncul secara hilang-timbul.
Cleveland Clinic menjelaskan, kadar gula tinggi yang bertahan lama bisa merusak pembuluh darah kecil yang bertugas membawa oksigen serta nutrisi ke saraf. Tanpa pasokan tersebut, sel saraf dapat mati sehingga fungsi saraf terganggu dan menimbulkan neuropati.
Terdapat tiga jenis neuropati yang berhubungan dengan diabetes, yaitu neuropati perifer (kaki, tangan, tungkai), neuropati otonom (fungsi organ dalam), dan neuropati proksimal (pinggul, paha, bokong).
Gejala paling umum dari neuropati perifer adalah kesemutan. Biasanya disertai mati rasa, rasa seperti tertusuk jarum, kelemahan otot, sensasi sentuhan yang tidak wajar, luka di kaki yang sulit sembuh, hingga hilangnya sensasi sepenuhnya pada kaki.
Kesemutan kerap muncul bersamaan dengan gejala lain diabetes, seperti sering buang air kecil, mudah haus, penglihatan kabur, berat badan menurun, hingga napas berbau manis seperti buah.
dr. Wisnu menekankan pentingnya pemeriksaan rutin ke dokter untuk mendeteksi risiko komplikasi neuropati diabetes sejak awal.
Kerusakan saraf yang menyebabkan neuropati perifer biasanya berkembang selama bertahun-tahun. Sementara gejala neuropati otonom pada penderita diabetes bisa berupa gangguan pencernaan, mual, muntah, retensi urine, infeksi saluran kemih berulang, disfungsi seksual, tekanan darah rendah, detak jantung tidak teratur, pusing hingga pingsan, serta keringat berlebihan.
Adapun gejala neuropati proksimal meliputi nyeri hebat yang muncul tiba-tiba di pinggul, paha, atau bokong. Penderita juga dapat mengalami kelemahan pada tungkai, hilangnya refleks seperti refleks lutut, penyusutan otot di area terdampak, hingga penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas.(mg2)
Bagi HalamanEditor : Jihan Muheri
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















