Misteri Ketindihan Saat Tidur, Apa Kata Sains?

Tidur
Ilustrasi Tidur. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Fenomena badan tiba-tiba kaku, sulit bernapas, hingga merasa ada yang menindih ketika tidur, sering dikaitkan dengan ulah makhluk halus.

Di Indonesia, kondisi ini bahkan populer dengan istilah “ketindihan setan”. Namun, sains punya penjelasan yang lebih masuk akal: fenomena ini disebut sleep paralysis atau kelumpuhan tidur.

Apa Itu Sleep Paralysis?

Menurut Yeni Quinta Mondiani, ahli neurologi dan dosen Fakultas Kedokteran IPB University, tidur merupakan proses fisiologis yang berlangsung dalam beberapa fase.

Ada empat fase Non-Rapid Eye Movement (NREM) dan satu fase Rapid Eye Movement (REM) yang terus berulang dalam satu siklus tidur.

Pada fase NREM tahap 3 dan 4, tubuh berada dalam tidur terdalam, berfungsi mengembalikan energi dan memperbaiki kondisi tubuh.

Sementara pada fase REM—fase di mana mimpi bisa diingat—otak aktif, tetapi otot-otot tubuh “dimatikan” untuk mencegah kita bertindak sesuai mimpi.

BACA JUGA :  Pancasila di Tengah Disrupsi Digital

Sleep paralysis terjadi ketika seseorang terbangun di fase REM, otaknya sudah aktif, tetapi tubuh masih berada dalam mode “terkunci”. Akibatnya, seseorang sadar penuh namun tidak bisa bergerak atau berbicara.

Gejala yang Dialami

Orang yang mengalami kelumpuhan tidur sering melaporkan:

  • Tidak bisa bergerak meski sadar.
  • Sensasi dada tertekan atau sulit bernapas.
  • Halusinasi visual atau auditori, misalnya melihat bayangan atau mendengar suara.
  • Perasaan ada yang menyentuh tubuh atau memegang leher.

Episode ini biasanya berlangsung beberapa detik hingga menit. Meski tidak membahayakan, sensasinya bisa menimbulkan rasa takut yang luar biasa.

Siapa yang Rentan Mengalaminya?

Sleep paralysis umumnya muncul pertama kali pada usia 15 hingga 35 tahun. Kondisi ini dapat terjadi sporadis dan dipicu oleh:

  • Kurang tidur.
  • Stres atau gangguan kecemasan.
  • Faktor keturunan.
  • Kondisi medis tertentu seperti narkolepsi.
BACA JUGA :  Rangkaian HJB ke-544, Gowes Napak Tilas Ajak Warga Menyusuri Sejarah dan Alam Bogor

Menurut National Sleep Foundation, kelumpuhan tidur sering muncul sebagai gejala narkolepsi—penyakit yang ditandai kantuk berlebihan, serangan tidur mendadak, hingga hilangnya kontrol otot.

Jika kelumpuhan tidur terjadi berulang tanpa narkolepsi, kondisi ini dikenal sebagai kelumpuhan tidur terisolasi berulang.

Antara Mistis dan Sains

Di banyak budaya, sleep paralysis sering dianggap sebagai pengalaman supranatural. Namun, menurut sains, fenomena ini hanyalah gangguan pada siklus tidur yang normal.

American Sleep Association menyebut kelumpuhan tidur bisa disertai perasaan ringan seolah tubuh melayang, atau sebaliknya, sensasi tertekan yang menimbulkan ketakutan.

Meskipun tidak berbahaya, tidur yang cukup, manajemen stres, serta menjaga pola hidup sehat dapat membantu mencegah episode sleep paralysis.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================