
Stres mengaktifkan sistem saraf otonom yang mengendalikan detak jantung, pernapasan, penglihatan, hingga respon tubuh lainnya. Bila berlangsung lama, respons stres ini bisa memicu kerusakan pada tubuh.
Berikut dampak stres pada tubuh jika dibiarkan berlarut-larut:
- Otot Tegang
Stres memicu ketegangan otot, terutama di leher, bahu, atau punggung. Kadang disertai kebiasaan mengatupkan rahang.
Menurut Keck Medicine, ketegangan otot yang berlangsung lama dapat menyebabkan nyeri kronis.
- Sakit Kepala
Stres bisa memicu sakit kepala tegang (tension headache). Harvard Health Publishing menyebutkan gejalanya berupa rasa nyeri tumpul di kedua sisi kepala, seperti diremas atau dijepit.
- Masalah Pencernaan
Tubuh bisa merespons stres lewat gangguan pencernaan, misalnya diare, sembelit, atau sakit perut. Sebagian orang juga mengalami refluks asam lambung.
- Palpitasi Jantung
Palpitasi atau jantung berdebar kencang kerap muncul saat stres. Jika berlangsung kronis, bisa berdampak pada tekanan darah tinggi dan penyakit jantung.
- Siklus Menstruasi Terganggu
Stres dapat membuat siklus haid tidak teratur, memperparah nyeri haid, bahkan memengaruhi kesuburan. Tubuh “menganggap” reproduksi perlu ditunda karena ada ancaman.
- Gangguan Tidur
Pikiran kacau membuat sebagian orang susah tidur, sementara yang lain justru tidur berlebihan.
Kurang tidur dalam jangka panjang meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, hingga kanker.
- Berat Badan Naik
Stres memicu peningkatan hormon kortisol yang mendorong nafsu makan berlebih. Akibatnya, tubuh menyimpan lebih banyak lemak dan berat badan naik.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















