
BOGORTODAY.COM – Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat (Kadisdik Jabar), Purwanto, menyebut robohnya atap SMKN 1 Cileungsi, Kabupaten Bogor, diduga akibat faktor usia bangunan dan material penutup atap yang terlalu berat.
Menurut Purwanto, bangunan tersebut sudah berusia sepuluh tahun dan dibangun pada 2015 silam ketika masih dikelola kabupaten. Ia menambahkan bahwa atapnya menggunakan genting plentong glesur, bukan metal, sehingga bebannya lebih berat.
“Baja ringan yang menopang juga terlihat bergelombang dan tidak mampu menahan tekanan,” ujar Purwanto saat meninjau lokasi, Rabu (10/9/2025).
Purwanto menegaskan, kerusakan hanya terjadi pada bagian atap, sedangkan struktur dinding gedung masih relatif aman.
“Cukup diganti dengan baja ringan dan atap baru, temboknya masih bagus,” katanya.
Meski begitu, Purwanto belum memastikan apakah ada kelalaian dari pihak kontraktor saat pembangunan.
“Perencanaan dan pelaksanaannya masih harus ditelusuri lebih dalam,” ucapnya.
Atas kejadian tersebut, Dinas Pendidikan mendorong pihak sekolah untuk menerapkan sistem kelas bergilir, moving class, maupun pembelajaran daring agar proses belajar tetap berjalan.
“Ada 36 rombongan belajar dengan empat kelas. Ini harus segera diatasi supaya anak-anak tidak kehilangan hak belajar,” jelasnya.
Sebagian besar siswa hanya mengalami lecet, terkilir, atau patah ringan, dan seluruhnya dilaporkan dalam kondisi stabil.
Purwanto menambahkan, Gubernur Jawa Barat telah menginstruksikan seluruh sekolah segera melaporkan bila ada bangunan yang dinilai tidak layak.
“Pengawasan akan diperketat. Begitu ada sekolah yang kondisinya membahayakan, harus segera direhabilitasi. Prioritas utama kita adalah keselamatan siswa,” tegasnya.
Bagi HalamanEditor : Bas
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















