
Aksi protes awalnya dipicu oleh pemblokiran akses media sosial pada awal September. Meski blokir dicabut pada 8 September, unjuk rasa tidak mereda dan justru semakin meluas dengan tuntutan anti-korupsi.
Aksi Kekerasan dan Penertiban Militer
Situasi memanas pada 9 September ketika aparat keamanan melepaskan tembakan ke arah demonstran. Amnesty International menuding pihak kepolisian menggunakan peluru tajam terhadap warga sipil.
Kerusuhan meluas hingga terjadi pembakaran rumah pejabat tinggi dan gedung parlemen Nepal. Akibatnya, PM Sharma Oli mengumumkan pengunduran diri pada 9 September, tetapi hal itu tidak cukup meredakan kemarahan publik.
Militer Nepal kemudian dikerahkan untuk mengendalikan keadaan. Jam malam nasional diberlakukan sejak 10 September, dengan pos-pos pemeriksaan didirikan di ibu kota Kathmandu. Sedikitnya 27 orang ditangkap atas dugaan kekerasan dan penjarahan, serta 31 senjata api berhasil disita.
Kekhawatiran “Penyusup”
Sejumlah demonstran menyatakan aksi mereka berpotensi ditunggangi pihak luar. Militer Nepal pun mengonfirmasi adanya indikasi keterlibatan penyusup dalam kerusuhan tersebut.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















