Oleh : Agus Jatmika (Praktisi Pendidikan di Bogor)
PEMERINTAH melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdsmen) tengah menggulirkan program digitalisasi pendidikan dengan menghadirkan Interactive Flat Panel (IFP), sebuah layar interaktif yang digadang-gadang akan menggantikan papan tulis konvensional.
Guru akan dibekali pelatihan agar mampu memanfaatkan perangkat ini dalam kegiatan belajar-mengajar. Harapannya, kualitas pembelajaran di sekolah meningkat seiring dengan pemanfaatan teknologi digital yang semakin berkembang.
Sekilas, program ini terdengar menjanjikan. Layar sentuh interaktif berpotensi membuat suasana kelas lebih hidup, mendorong keterlibatan siswa, serta mempermudah guru dalam menyampaikan materi. Namun pertanyaan penting yang patut diajukan adalah apakah ekosistem pendidikan kita sudah siap menyambut perubahan besar ini?
Sementara itu realitas di lapangan menunjukkan bahwa distribusi perangkat memang sudah dilakukan secara masif. Berdasarkan data pemerintah mencatat lebih dari 1,3 juta perangkat TIK telah dibagikan ke hampir 80 ribu sekolah di seluruh Indonesia. Tetapi ketersediaan perangkat bukanlah jaminan keberhasilan digitalisasi.
Hasil Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2024 menempatkan skor nasional pada angka 43,34 dari 100, dengan pilar pemberdayaan digital masih rendah di angka 25,68. Fakta ini memberi pesan bahwa perangkat boleh tersedia, tetapi kemampuan memanfaatkannya masih jauh dari merata.
Di perkotaan, IFP bisa langsung dipakai dengan dukungan listrik stabil dan internet cepat. Sebaliknya, di banyak daerah pelosok, listrik padam bergilir dan sinyal internet lemah. Tanpa solusi menyeluruh, digitalisasi bisa melahirkan jurang baru antara sekolah kota yang modern dan sekolah desa yang tetap bertahan dengan papan kapur.
Di pihak lain kesiapan guru juga menjadi kunci. Survei Pustekkom menunjukkan hanya 40 persen guru non-TIK yang merasa siap mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran.
Mayoritas guru masih memerlukan pelatihan intensif, bukan hanya soal teknis mengoperasikan perangkat, tetapi juga dalam mengubah cara pandang mereka terhadap pembelajaran.
Guru dituntut bertransformasi dari sekedar penyampai informasi menjadi fasilitator pembelajaran interaktif. Sementara itu, beban administratif guru sudah sangat berat, sehingga tanpa dukungan nyata ada risiko perangkat canggih hanya berfungsi sebagai hiasan mahal di sudut kelas.
Disisi lain digitalisasi pendidikan juga terkait erat dengan budaya digital yang lebih luas. Pakar literasi digital Gun Gun Siswadi mengingatkan bahwa sekitar 70 persen anak Indonesia aktif menggunakan internet, tetapi kebanyakan tanpa pendampingan orang tua. Kondisi ini menghadirkan risiko distraksi, kecanduan layar, bahkan paparan konten negatif.
Selain itu digitalisasi pendidikan tidak cukup berhenti pada pengadaan perangkat, tetapi juga harus disertai literasi digital yang kuat bagi siswa, guru, maupun orang tua. Pemerintah pun mengakui tantangan terbesar ada pada kesenjangan antarwilayah dan kesiapan guru, bukan semata-mata pada penyediaan perangkat.
Oleh karena itu, digitalisasi seharusnya dipandang bukan hanya sebagai proyek teknologi, melainkan sebagai upaya membangun budaya belajar baru. Program percontohan di berbagai wilayah, termasuk di daerah terpencil, bisa menjadi langkah awal untuk memetakan kebutuhan dan mengukur efektivitas.
Guru perlu mendapat pelatihan berkelanjutan serta dukungan komunitas belajar agar dapat bereksperimen dan berinovasi. Orang tua juga harus dilibatkan, karena pembiasaan literasi digital tidak berhenti di ruang kelas, melainkan berlanjut di rumah.
Di sisi lain, pemerintah perlu memastikan adanya evaluasi terbuka apakah penggunaan IFP benar-benar meningkatkan kualitas belajar, atau hanya menambah daftar panjang proyek digitalisasi yang kurang berdampak nyata.
Bagaimanapun kehadiran IFP patut diapresiasi sebagai langkah maju dalam pendidikan Indonesia. Tetapi, keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan layar di ruang kelas, melainkan kesiapan seluruh ekosistem Pendidikan meliputi guru yang terampil, siswa yang terarah, orang tua yang terlibat, dan infrastruktur yang mendukung.
Teknologi hanyalah alat, bisa menjadi jembatan menuju pendidikan yang lebih setara dan berkualitas, atau justru sekedar simbol modernitas tanpa makna. Kini tantangannya adalah menjadikan digitalisasi bukan hanya impian yang dipantulkan layar, tetapi sebuah kenyataan yang benar-benar membentuk masa depan bangsa.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================
















