
Dalam pidatonya, AHY menyebut ada tiga faktor penting yang akan membentuk wajah kota di masa depan:
- Adaptasi terhadap Perubahan Iklim
Kota harus mampu menghadapi risiko krisis iklim melalui mitigasi yang tertanam sejak awal dalam perencanaan, mulai dari aturan bangunan, infrastruktur banjir, hingga tata ruang permukiman. - Transformasi Demografi
Pertumbuhan dan perubahan populasi menuntut model urban yang adaptif, adil, dan responsif terhadap dinamika sosial yang terjadi. - Revolusi Digital
Kehadiran kecerdasan buatan (AI), analitik data, dan otomasi akan mendefinisikan ulang cara merencanakan dan mengelola kota. Namun AHY menegaskan, “Teknologi saja tidak cukup membuat kota cerdas. Tanpa etika, transparansi, dan inklusi, kota pintar justru berisiko memperdalam jurang ketimpangan.”
Kota Berkelanjutan untuk Semua
AHY menekankan, pembangunan kota masa depan harus berlandaskan prinsip keberlanjutan. Kota yang tangguh adalah kota yang mampu bekerja untuk semua kalangan, khususnya kelompok rentan.
“Selalu lebih bijak berinvestasi pada pencegahan dibanding membayar pemulihan. Ketahanan sejati harus tertanam dalam desain, bukan ditambahkan belakangan,” ucapnya.
Sementara itu, EAROPH President Indonesia, Andira Reoputra, menyoroti posisi Jakarta sebagai megapolitan dengan tantangan besar sekaligus ambisi kuat menuju kota berkelanjutan dan berdaya saing global.
“Mari jadikan konferensi ini sebagai titik balik. Saatnya berinovasi dalam keberlanjutan, berkolaborasi lintas batas, serta membangun kota-kota masa depan yang cerdas dan tangguh secara manusiawi,” ujarnya.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














