
“Hari ini bisa dibilang seperti luka bagi kami. Barang-barang dari perusahaan, seperti pasir dan batu, sudah tidak ada lagi yang bisa kami kerjakan,” ucap Dani.
Menurutnya, bagi para kuli ganjur, kuli rata, dan kuli muat di pangkalan-pangkalan sekitar wilayah Bogor Barat, aktivitas tambang merupakan “dapur” penghidupan mereka.
“Ini dapur kami untuk mencari nafkah. Tapi dengan adanya peraturan ini, kami jadi korban. Kebutuhan sehari-hari sulit dipenuhi, bahkan kami tidak bisa membayar cicilan ke bank,” jelasnya.
Dani menuturkan, saat kondisi normal, ia bisa membawa pulang uang sekitar Rp200 ribu per hari untuk menafkahi anak dan istri. Namun, sejak penutupan tambang, ia sama sekali tidak memiliki penghasilan.
“Biasanya sehari bisa bawa Rp200 ribu. Tapi sudah lima hari ini nol, tidak ada penghasilan sama sekali,” ungkapnya.
Ia pun berharap pemerintah segera memberikan solusi agar kondisi ekonomi warga kembali normal.
“Harapan saya, semoga pemerintah cepat menyelesaikan masalah ini. Tolong kasihanilah kami yang terdampak langsung akibat penutupan tambang ini,” pungkasnya.
Editor : Ilham Ariyansyah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















