Belahan Bumi Utara Semakin Gelap: Satelit NASA Ungkap Ketidakseimbangan Energi Matahari

Satelit NASA
Ilustrasi Satelit dan Bumi. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Selama hampir dua dekade, satelit NASA diam-diam mencatat aliran sinar Matahari dan panas melalui atmosfer Bumi.

Hasil pemantauan terbaru menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: Belahan Bumi Utara perlahan menjadi lebih gelap dibandingkan Belahan Bumi Selatan.

Temuan ini diungkap lewat studi berdasarkan data selama 24 tahun dari instrumen Cloud and Earth’s Radiant Energy System (CERES), yang melacak seberapa banyak energi Matahari yang diserap Bumi (absorbed solar radiation/ASR) dan seberapa banyak energi yang dilepaskan kembali ke angkasa (outgoing longwave radiation/OLR).

Ketidakseimbangan Energi

Analisis para ilmuwan menunjukkan bahwa belahan Bumi utara menerima sekitar 0,34 watt per meter persegi lebih banyak energi Matahari setiap dekade dibanding belahan selatan.

Angka tersebut tampak kecil, namun secara statistik signifikan dan cukup untuk mengganggu keseimbangan energi global yang rapuh.

“Pergeseran itu terlihat, kedua belahan Bumi memantulkan lebih sedikit sinar Matahari, tetapi efeknya lebih kuat di utara,” jelas Dr. Norman G. Loeb, ilmuwan iklim di Langley Research Center NASA.

Penyebab Utama: Hilangnya Reflektor Alami

BACA JUGA :  OSN-K 2026 Segera Digelar, Peserta Wajib Pahami Tata Tertib dan Sanksi yang Berlaku

Fenomena ini, disebut sebagai penggelapan belahan utara, dipicu oleh beberapa faktor:

  • Mencairnya es dan salju di Arktik: permukaan putih yang biasanya memantulkan cahaya tergantikan daratan dan lautan gelap yang justru menyerap panas.
  • Penurunan polusi aerosol: partikel kecil dari industri yang dahulu menyebarkan cahaya kini berkurang karena regulasi lingkungan lebih ketat di Amerika Utara, Eropa, dan China. Udara lebih bersih, tetapi daya pantulnya juga hilang.
  • Perbedaan kondisi di selatan: kebakaran hutan di Australia dan letusan Hunga Tonga sempat meningkatkan kadar aerosol, tetapi tidak cukup untuk menyeimbangkan tren global.

Selain itu, perubahan sifat awan turut berperan. Awan di beberapa wilayah menjadi lebih tipis, sementara di tempat lain menebal, tetapi secara keseluruhan tidak cukup untuk mengimbangi peningkatan penyerapan energi di utara.

Dampak: Simetri Iklim Rusak

Sebelumnya, para ilmuwan berasumsi sistem iklim akan mengatur dirinya sendiri. Namun, data terbaru membuktikan sebaliknya. Ketidakseimbangan energi ini mengganggu sirkulasi atmosfer dan laut—kekuatan utama yang menjaga stabilitas iklim global.

Jika tren ini berlanjut:

  • Pola angin lintas khatulistiwa bisa melemah atau berbalik arah.
  • Arus laut yang mengatur distribusi panas ikut terganggu.
  • Pemanasan di kawasan padat penduduk seperti Amerika Utara, Eropa, dan Asia bisa semakin parah.
BACA JUGA :  9 Kebiasaan Sepele yang Bisa Membuat HP Cepat Rusak, Banyak Pengguna Tak Menyadarinya

Sejak 2001, seluruh dunia menyerap tambahan energi sebesar 0,83 watt per meter persegi per dekade. Meski sebagian disirkulasikan kembali, sekitar 0,21 watt per meter persegi tetap tertahan, cukup untuk mempercepat tren pemanasan global.

Peringatan Bagi Kebijakan Iklim

Para ilmuwan menegaskan bahwa dampak ini tidak akan dirasakan seketika, melainkan perlahan namun terakumulasi, memicu siklus umpan balik yang memperkuat perubahan iklim.

Bagi pembuat kebijakan, ada dilema yang jelas: membersihkan udara dari polusi berarti mengorbankan sebagian daya reflektif alami Bumi. Model iklim perlu lebih akurat menangkap konsekuensi kompromi ini.

Studi ini juga menegaskan betapa perubahan kecil—hanya beberapa watt per meter persegi—dapat diam-diam menggeser keseimbangan energi planet.

Informasi ini penting untuk merancang kebijakan iklim yang lebih bijak, membantu masyarakat beradaptasi, serta melindungi ekosistem yang rentan terhadap ketidakseimbangan energi global.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================