
Kunyit dan Kina, Harta Herbal yang Belum Dimaksimalkan
Dari sekian banyak tanaman herbal di Indonesia, Taruna menyoroti dua komoditas unggulan yang belum dikelola maksimal, yaitu kunyit dan batang kina.
Batang kina dikenal sebagai bahan baku obat malaria, sedangkan kunyit kaya kurkumin, zat aktif yang memiliki efek antioksidan, antiinflamasi, dan berpotensi sebagai antikanker. Namun, selama ini bahan mentah dari kedua tanaman tersebut masih diekspor ke luar negeri untuk diolah menjadi produk jadi.
“Selama ini batang-batang kina itu kita kirim dulu ke Jerman, ke Eropa, atau ke Belanda. Setelah diolah, produknya dikirim balik ke Indonesia dengan harga ribuan kali lipat,” ujar Taruna.
Ia menegaskan, jika proses pengolahan herbal dilakukan di dalam negeri, nilai tambahnya akan meningkat signifikan dan ketergantungan terhadap obat impor dapat dikurangi.
“Kalau kita bisa kelola sendiri, kita mampu mandiri dari sumber alam ini. Saya yakin secara bertahap ketergantungan obat dari luar negeri akan berkurang,” ujarnya optimistis.
Optimisme Indonesia Menjadi Pusat Herbal Dunia
Dengan kekayaan alam yang luar biasa, dukungan riset, dan regulasi yang semakin kuat, Taruna yakin Indonesia dapat sejajar dengan negara-negara besar seperti Korea Selatan yang terkenal dengan ginseng, dan China dengan pengobatan tradisionalnya.
“Jangan hanya Korea yang punya ginseng, atau China dengan herbalnya. Indonesia jauh lebih kaya dari mereka. Tinggal bagaimana kita kelola dengan baik,” tutup Taruna.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : CNNIndonesia
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















