
BOGORTODAY.COM – Dalam suasana peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang menganugerahkan gelar kehormatan kepada Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. Ia resmi dinobatkan sebagai “Bapak Eco-Teologi Indonesia” dalam upacara yang digelar di Kampus UIN Malang pada Rabu (22/10/2025).
Gelar kehormatan ini diberikan sebagai bentuk penghargaan atas gagasan dan kiprah Prof. Nasaruddin Umar dalam mengintegrasikan spiritualitas Islam dengan kesadaran ekologis, sebuah upaya membangun harmoni antara iman dan lingkungan di tengah kehidupan modern.
“Penobatan Prof. Nasaruddin Umar sebagai Bapak Eco-Teologi Indonesia adalah simbol kebangkitan paradigma baru: Islam yang berpihak pada alam, manusia, dan masa depan. UIN Malang berkomitmen menjadi pelopor integrasi ilmu, iman, dan lingkungan,” ujar Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, M.Si., dalam keterangan persnya.
Momen penobatan ini juga menjadi ajang refleksi mendalam atas musibah runtuhnya bangunan ibadah di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, yang menewaskan 67 santri.
Prof. Ilfi menyampaikan duka mendalam sekaligus mengajak masyarakat untuk menjadikan tragedi tersebut sebagai titik balik dalam memahami makna iman dan tanggung jawab sosial.
Menurutnya, iman tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab terhadap lingkungan dan keselamatan manusia, yang dalam pandangan teologi disebut sebagai eco-teologi.
“Kita berduka atas peristiwa di Al-Khoziny. Namun di balik duka itu, ada pesan penting: membangun rumah ibadah dan pesantren bukan sekadar mendirikan bangunan, tetapi membangun peradaban,” kata Prof. Ilfi.
Lebih lanjut, Prof. Ilfi menjelaskan bahwa eco-teologi menekankan prinsip bahwa setiap pembangunan merupakan bagian dari amanah Allah yang harus dijalankan dengan ilmu, cinta, dan tanggung jawab.
Ia menegaskan bahwa tragedi seperti di Al-Khoziny bukan semata akibat kelalaian teknis, melainkan mencerminkan perlunya kesadaran teologis baru—bahwa pembangunan fisik juga merupakan bagian dari tauhid praksis, yakni kesatuan antara iman dan tindakan nyata.
“Kita tidak bisa memisahkan spiritualitas dari profesionalitas. Amanah membangun pesantren dan tempat ibadah adalah bagian dari tauhid praksis—kesatuan antara iman, ilmu, dan amal,” tegas Prof. Ilfi.
Penobatan ini menjadi simbol penting dalam memperkuat nilai-nilai Islam hijau (green Islam) yang menempatkan kelestarian alam dan kesejahteraan manusia sebagai satu kesatuan ibadah.
Dengan gelar “Bapak Eco-Teologi Indonesia”, Prof. Nasaruddin Umar diharapkan terus menginspirasi umat Islam untuk menjadikan keimanan sebagai kekuatan dalam menjaga bumi dan kemanusiaan.
Bagi HalamanEditor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














