
Kelompok usia 25–29 tahun (lajang) menjadi yang paling rentan, dengan skor rata-rata hanya 37,94, di bawah rata-rata nasional.
Di sisi lain, kemampuan mengelola utang tanpa jaminan juga menurun dari 97,28 menjadi 93,97. Hal ini menandakan semakin kuatnya tren “buy now pay later” (BNPL), cicilan konsumtif, serta kredit gaya hidup yang semakin marak di kalangan muda.
Literasi Tinggi, Tapi Belum Berbuah Bijak Finansial
Menariknya, jika mengacu pada data Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK 2025, kelompok usia muda justru memiliki tingkat literasi keuangan yang tinggi.
Berdasarkan usia, kelompok 26–35 tahun dan 18–25 tahun mencatat indeks literasi keuangan tertinggi, masing-masing sebesar 74,04% dan 73,22%. Namun, tingginya literasi ini tidak serta-merta membuat mereka lebih bijak dalam mengelola keuangan. Fenomena ini memperlihatkan adanya “financial knowledge gap” — tahu teori finansial, tapi sulit menerapkannya dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Tantangan Keuangan di Era Digital
Di era digital yang serba cepat, kemampuan mengatur keuangan menjadi bentuk perjuangan baru. Media sosial dan tren gaya hidup urban seringkali menekan anak muda untuk tampil “selevel” dengan lingkungannya, meski harus berutang demi menjaga citra.
Untuk menghadapi situasi ini, para pakar keuangan menyarankan anak muda mulai:
- Membuat anggaran bulanan realistis sesuai pendapatan;
- Membedakan antara kebutuhan dan keinginan;
- Belajar manajemen utang dan menunda pembelian konsumtif;
- Mencari tips hemat agar tetap bisa bersosialisasi tanpa membuat dompet menjerit.
Dengan keseimbangan antara gaya hidup dan perencanaan finansial yang matang, generasi muda Indonesia diharapkan mampu membalik tren negatif ini — dari sekadar ikut-ikutan gaya hidup, menjadi generasi yang melek finansial dan berdaya secara ekonomi.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















