
Menuai Kekhawatiran Astronom dan Pemerhati Lingkungan
Proyek ini berpotensi mendapat tentangan dari para astronom. Pasalnya, penambahan puluhan satelit baru di orbit rendah dapat:
- Mengganggu observasi astronomi
- Memperburuk kondisi “orbit crowding” atau kepadatan satelit
- Menimbulkan risiko tabrakan antar satelit
Selain itu, meski operasionalnya hemat energi, peluncuran awal tetap memiliki dampak karbon yang signifikan.
Tren Global: Perusahaan Teknologi Berlomba ke Luar Angkasa
Google bukan satu-satunya perusahaan yang bergerak ke arah ini. Tekanan permintaan AI membuat raksasa teknologi berlomba mengembangkan pusat data baru.
- Elon Musk, melalui Starlink dan SpaceX, mengisyaratkan ekspansi untuk membangun pusat data ruang angkasa.
- Nvidia bersiap mengirim Chip AI khusus luar angkasa bekerja sama dengan startup Starcloud.
- Philip Johnston, salah satu pendiri Starcloud, menyebut bahwa energi di luar angkasa “hampir tak terbatas dan murah.”
Ia menambahkan bahwa selama masa operasional, pusat data orbital dapat menghemat emisi karbon hingga 10 kali lipat dibanding pusat data darat.
Langkah Awal Menuju AI Berbasis Ruang Angkasa
Google akan meluncurkan dua satelit prototipe pada awal 2027. Perusahaan menyebut penelitian Project Suncatcher sebagai “tonggak pertama menuju AI berbasis ruang angkasa yang dapat diskalakan.”
Dalam laporan resminya Google menegaskan:
“Di masa depan, ruang angkasa mungkin menjadi tempat terbaik untuk mengembangkan komputer AI.”
Jika Proyek Suncatcher berhasil, pusat data orbital bisa menjadi standar baru dalam industri komputasi global — membuka era baru di mana AI berjalan bukan hanya dari server di bumi, tetapi dari luar angkasa.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















