
Menurut Akbar, Wetu Telu kini lebih dilihat sebagai simbol budaya, bukan lagi ajaran agama formal.
“Wetu Telu sekarang simbolisme saja. Tapi dari sana kita tahu bahwa Islam di Lombok tumbuh dari dialog panjang antara agama, budaya, dan alam,” tuturnya.
Dalam filosofinya, hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam tidak dapat dipisahkan. Harmoni inilah yang menjadi pesan abadi Wetu Telu bagi dunia modern.
“Dulu leluhur kita sudah bicara soal keseimbangan ekosistem, kesadaran sosial, dan spiritualitas. Semua itu ada dalam Wetu Telu,” imbuhnya.
“Seperti rumput yang tumbuh, manusia yang beranak, dan burung yang bertelur—semua bagian dari satu kesatuan kehidupan.”
Keberadaan Wetu Telu di Sembalun dan Catatan Peneliti
Melansir Indonesia.go.id, praktik Islam Wetu Telu dapat ditemui di Desa Sembalun, kaki Gunung Rinjani. Masyarakat di sana masih memegang unsur animisme lama yang diyakini menjaga keseimbangan alam Rinjani.
Pada 1940, penulis J. Van Ball mencatat Wetu Telu sebagai pusat kebudayaan masyarakat Sasak. Catatan tersebut kemudian diterjemahkan oleh antropolog Koentjaraningrat dalam buku Pesta Alip di Bayan, yang menggambarkan upacara adat besar yang diadakan setiap delapan tahun sekali untuk merawat dan menghormati makam leluhur Bayan di kompleks Masjid Kuno Bayan.
Keyakinan dan Praktik Ibadah dalam Wetu Telu
Beberapa praktik keagamaan Wetu Telu memiliki pola tersendiri:
- Syahadat
Maknanya sama seperti umat Islam lain, namun dilafalkan dalam bahasa lokal, bukan Arab.
- Salat
Mereka mengenal salat lima waktu, namun dalam keseharian menjalankan tiga salat utama: Subuh, Magrib, dan Isya.
- Puasa
Tidak sebulan penuh, tetapi tiga kali dalam sebulan—awal, pertengahan, dan akhir Ramadan.
Selama puasa, ada pantangan seperti tidak bekerja, tidak keluar rumah, dan tidak berbohong.
- Zakat
Zakat diserahkan kepada kyai sebagai bentuk penghormatan, bukan kepada fakir miskin.
- Rukun Islam Kelima
Tidak mengenal ibadah haji. Sebagai gantinya, penghormatan kepada leluhur dianggap sebagai perantara spiritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dalam sistem ini, leluhur dipercaya membawa berkah dan perlindungan bagi keturunannya. Keyakinan tersebut melahirkan aturan adat yang disebut Pemalik, seperangkat pantangan yang dipercaya membawa kesialan bila dilanggar.
Warisan yang Bertahan Sebagai Penjaga Identitas
Islam Wetu Telu adalah bukti bahwa agama, budaya, dan alam pernah menyatu dalam satu sistem nilai yang harmonis di Lombok. Meski praktiknya kini memudar, warisannya tetap menjadi penanda sejarah dan identitas masyarakat Bayan.
Ia tidak hanya menceritakan bagaimana Islam berkembang melalui jalan dialog dan akulturasi, tetapi juga bagaimana manusia pernah merawat alam dan sesama dalam satu kesatuan spiritualitas yang utuh.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















