Waspadai Radang Tenggorokan pada Anak, Bisa Berujung Penyakit Jantung Reumatik

BOGORTODAY.COM Radang tenggorokan sering dianggap sepele, terutama pada anak-anak. Namun, di balik gejala ringan seperti nyeri menelan dan demam, kondisi ini dapat berkembang menjadi penyakit serius yang mengancam nyawa, yakni penyakit jantung reumatik.

Ketua Unit Kerja Koordinasi Kardiologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Rizky Adriansyah, menjelaskan bahwa penyakit ini berawal dari infeksi bakteri Streptococcus beta-hemolyticus grup A (SGA) yang tidak segera diobati.

Radang tenggorokan akibat infeksi SGA dapat berkembang menjadi demam rematik, yaitu reaksi sistem kekebalan tubuh yang muncul 1–5 minggu setelah infeksi awal,” ujar Rizky, Selasa (11/11/2025).

Demam rematik tersebut dapat menyerang sendi, kulit, hingga jantung.

“Jika menyerang ke jantung, bisa menyebabkan kecacatan pada katup jantung. Inilah yang disebut penyakit jantung reumatik,” imbuhnya.

Kondisi ini bahkan dapat berujung pada gagal jantung dan stroke apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Gejala yang Harus Diwaspadai

Radang tenggorokan akibat infeksi SGA biasanya ditandai dengan beberapa gejala khas, antara lain:

  • Demam tinggi lebih dari 48 jam
  • Nyeri menelan tanpa disertai batuk
  • Amandel merah dan bengkak
  • Nyeri pada kelenjar leher
  • Muncul ruam kemerahan di kulit
BACA JUGA :  10 Makanan Terbaik untuk Meningkatkan Fokus dan Ingatan Otak

Sementara itu, gejala demam rematik dapat muncul beberapa minggu setelah infeksi awal, seperti:

  • Nyeri dan bengkak pada sendi yang berpindah-pindah
  • Ruam merah berbentuk lingkaran pada kulit
  • Sesak napas, jantung berdebar, mudah lelah, atau bengkak di tungkai
  • Gerakan gelisah tak terkendali seperti menari (Khorea Sydenham)

Apabila anak mengalami demam tinggi lebih dari dua hari dan tidak membaik dengan obat penurun panas, orang tua disarankan segera membawanya ke dokter untuk pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut.

Risiko Penyakit Masih Tinggi di Indonesia

Indonesia termasuk negara endemis penyakit jantung reumatik. Angka kematiannya mencapai 4,8 per 100.000 penduduk, lebih tinggi dibanding penyakit malaria yang sebesar 3 per 100.000 penduduk.

Berdasarkan data UKK Kardiologi IDAI tahun 2018, hanya 6 dari 10 anak yang mampu bertahan hidup delapan tahun setelah terdiagnosis. Sementara itu, 4 dari 10 anak lainnya mengalami kerusakan katup jantung progresif.

“Tantangan utama penanganannya cukup kompleks, mulai dari deteksi dini yang rendah, ketidakpatuhan minum obat, hingga keterbatasan stok Benzatin Penisilin G (BPG),” jelas Rizky.

BPG merupakan antibiotik suntik yang diberikan setiap 3–4 minggu untuk mencegah kekambuhan demam rematik dan memperburuk kerusakan jantung. Sayangnya, ketersediaan obat ini di rumah sakit daerah masih sering terbatas.

BACA JUGA :  Dedie Rachim: Gedung Baru MTsN 1 Kota Bogor Bakal Dongkrak Daya Tampung dan Minat Siswa

Pencegahan Jadi Kunci Utama

Menurut Rizky, pencegahan primer adalah langkah paling efektif untuk menurunkan risiko penyakit jantung reumatik pada anak. Langkah-langkahnya meliputi:

  • Mengobati infeksi tenggorokan akibat bakteri SGA hingga tuntas dengan antibiotik selama 10–14 hari
  • Menjaga kebersihan diri dan lingkungan, termasuk rajin mencuci tangan, tidak berbagi alat makan, serta menutup mulut saat batuk atau bersin
  • Memastikan ventilasi rumah dan sekolah tetap baik

Sementara itu, pencegahan sekunder penting bagi anak yang pernah mengalami demam rematik.

Anak perlu mendapat suntikan BPG secara rutin minimal lima tahun atau hingga usia 21 tahun, tergantung tingkat keparahan kerusakan katup,” terang Rizky.

Orang tua juga diimbau menjaga kebersihan alat makan anak, melarang anak bertukar sendok atau botol minum, serta memberikan waktu istirahat yang cukup jika anak mengalami sakit tenggorokan.

Radang tenggorokan tidak boleh diremehkan. Dengan pengobatan yang cepat dan pencegahan yang tepat, risiko anak menderita penyakit jantung reumatik dapat ditekan secara signifikan.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : CNNIndonesia

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================