
Selama setahun penuh memimpin Himsh, Umair menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Ia menata pemerintahan, memperbaiki sistem keadilan, dan menjaga kesejahteraan masyarakat. Yang mengejutkan, selama setahun itu tidak ada satu keluhan pun datang dari penduduk, sesuatu yang sangat jarang terjadi bagi masyarakat Himsh.
Namun, ada hal lain yang membuat Umar bin Khattab khawatir:
Tidak ada satu dirham atau dinar pun harta fai’ (harta dari wilayah taklukan tanpa peperangan) yang dikirimkan ke Madinah. Umar khawatir, jangan-jangan kekuasaan telah menggoda Umair sebagaimana banyak pemimpin lain diuji oleh jabatan.
Umar lalu mengirim surat, meminta Umair datang ke Madinah dan membawa laporan serta harta fai’ yang dikelola.
Perjalanan Panjang Menuju Madinah
Umair menerima surat itu dengan penuh ketaatan. Tanpa ragu, ia berangkat menuju Madinah dengan berjalan kaki, hanya membawa bekal seadanya. Tidak ada kendaraan, tidak ada barang berharga—hanya peralatan ibadah dan makanan sederhana.
Ketika tiba, Umar bin Khattab terkejut melihat sosok Umair yang tampak lemah dan kurus karena perjalanan jauh. Namun wajahnya tetap memancarkan ketenangan iman.
Umar bertanya, “Apa yang terjadi padamu, wahai Umair?”
Ia menjawab, “Aku baik-baik saja, wahai Amirul Mukminin.”
Ketika ditanya tentang harta fai’, Umair menjelaskan bahwa ia telah menyalurkan semuanya kepada yang berhak. Tidak ada yang ia simpan untuk dirinya sendiri.
Umar pun terharu mendengar penjelasan tersebut. Ia menyadari bahwa Umair tetap sebagaimana dahulu: jujur, bersih dari ambisi dunia, dan hanya mencari ridha Allah SWT.
Menolak Jabatan dan Kembali pada Kesederhanaan
Karena terkesan dengan integritas Umair, Umar bin Khattab berkeinginan memperpanjang masa jabatannya sebagai pemimpin Himsh. Namun Umair dengan halus menolak. Ia lebih memilih hidup sederhana di kampungnya, beribadah kepada Allah, dan menjaga diri dari fitnah kekuasaan.
Bagi Umair, jabatan bukanlah kehormatan, melainkan ujian yang berat. Ia merasa cukup dengan hidup yang tenang, jauh dari gemerlap dunia, selama bisa tetap dekat dengan Tuhannya.
Teladan Umair bin Sa’ad untuk Umat Masa Kini
Kisah Umair bin Sa’ad menyisakan banyak pelajaran berharga:
- Kepemimpinan sejati lahir dari keimanan yang kuat.
- Integritas lebih berharga daripada kekuasaan.
- Kejujuran adalah kemuliaan yang membuat seseorang dihormati di langit dan di bumi.
- Keadilan adalah pilar utama tegaknya masyarakat dan agama.
- Pemimpin yang amanah tidak mencari keluhan maupun pujian, tetapi keridhaan Allah.
Umair bin Sa’ad mungkin tidak setenar sebagian sahabat lainnya, tetapi integritas, kejujuran, dan ketegasannya menjadikannya sosok luar biasa dalam sejarah Islam—seorang pemimpin yang benar-benar nasiju wahdih, tiada duanya.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















