
Pengaruh Regional KAA di Asia dan Afrika
Di Asia
KAA membuka jalan bagi Tiongkok untuk keluar dari isolasi diplomatik. Pertemuan Bandung memperkuat identitas kolektif negara-negara Asia pascakolonial.
Di Afrika
KAA menjadi katalis penting bagi gelombang kemerdekaan—puncaknya Tahun Afrika 1960. Bandung juga memberi fondasi bagi pembentukan Organisasi Kesatuan Afrika (OAU), pendahulu Uni Afrika.
Relevansi Kontemporer: Semangat Bandung dalam Polarisasi Baru
Meski GNB menghadapi tantangan internal dan pertanyaan relevansi pasca-Perang Dingin, prinsip-prinsip Bandung kembali menemukan momentumnya. Di tengah polarisasi global baru seperti rivalitas AS–China, nilai-nilai Dasa Sila Bandung—terutama penolakan terhadap hegemoni dan penghormatan kedaulatan—kembali menjadi rujukan negara-negara Global South.
KAA dan GNB bukan hanya fenomena geopolitik yang pragmatis. Mereka adalah revolusi epistemik—perombakan terhadap cara dunia memandang struktur kekuasaan internasional. Sebelum Bandung, tata kelola global didominasi oleh negara-negara Barat yang telah mapan. KAA menggeser paradigma itu dan mengangkat negara-negara Dunia Ketiga sebagai komunitas politik dengan posisi dan martabat sendiri.
Warisan Abadi KAA: Identitas Politik Global South
Warisan KAA bukan hanya Dasa Sila Bandung atau lahirnya GNB. Yang paling berharga adalah:
- terciptanya identitas politik kolektif Global South,
- kesadaran bahwa solidaritas dapat menjadi kekuatan geopolitik,
- dan keyakinan bahwa moralitas internasional mampu menantang struktur kekuasaan global.
KAA membuktikan bahwa dunia tidak harus tunduk pada bipolaritas. Dengan keberanian, solidaritas, dan nilai-nilai kemanusiaan, negara-negara Asia dan Afrika mampu menegaskan jalan ketiga—jalan independen yang bermartabat.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================














