
“Semua masih terawat, mulai dari furnitur, ornamen, hingga lima bendera negara peserta yang masih tersimpan seperti saat Konferensi Bogor 1955 digelar,” kata Dedie.
Lebih dari sekadar acara seremoni, Ambassador Summit menjadi momentum penting bagi Bogor untuk memperluas jejaring internasional melalui diplomasi kota (city diplomacy). Dedie menilai forum ini dapat membuka peluang kerja sama dan investasi baru, baik dari sektor swasta maupun pemerintah negara sahabat.
“Ke depannya tentu kami berupaya menjadikan Bogor sebagai tempat berpotensi untuk investasi, kunjungan wisata, maupun penyelenggaraan kegiatan internasional,” ucapnya.
Dengan terus menggaungkan semangat solidaritas Asia-Afrika, Dedie berharap nilai-nilai dasar KAA seperti persatuan bangsa, kemandirian, dan perjuangan melawan imperialisme tetap relevan dan menjadi pijakan menjelang KAA 2026.
“Tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat. Itu harus terus kita jaga sebagaimana dicita-citakan para pemimpin saat merumuskan Konferensi Asia-Afrika di Bogor,” tegasnya.
Ambassador Summit di Bogor menegaskan bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga menjadi fondasi untuk membangun masa depan kolaboratif antara negara-negara Asia dan Afrika—sebuah semangat yang terus dihidupkan menjelang penyelenggaraan KAA 2026.
Editor : Gistin Illiyin
Sumber : BogorUpdate.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel
====================================== ====================================















