Mitos Kecerdasan Otak Kanan dan Kiri: Apa Kata Sains?

Otak
Mitos Kecerdasan Otak Kanan dan Kiri. (Foto: iStock)

BOGORTODAY.COM – Selama bertahun-tahun, masyarakat luas percaya bahwa kecerdasan seseorang dapat dibagi menjadi dua kategori: otak kiri yang logis dan analitis, serta otak kanan yang kreatif dan artistik.

Seseorang yang teliti dianggap “berotak kiri”, sementara mereka yang gemar seni dan bebas berekspresi sering disebut “berotak kanan”.

Keyakinan ini bahkan berkembang menjadi industri kecil berupa buku, tes kepribadian, hingga pelatihan yang mengklaim dapat “mengoptimalkan” salah satu belahan otak.

Namun, sains modern mengatakan hal yang berbeda. Gagasan ini ternyata hanyalah mitos.

Kecerdasan Otak Kanan dan Kiri, Menurut Penelitian, Adalah Mitos

Menurut ensiklopedia Britannica, pembagian manusia menjadi “berotak kanan” atau “berotak kiri” tidak memiliki dasar ilmiah. Memang benar setiap orang memiliki kepribadian dan bakat berbeda, tetapi sains menegaskan bahwa perbedaan tersebut tidak disebabkan oleh dominasi salah satu sisi otak.

Penelitian modern dengan teknologi pencitraan otak (brain imaging) tidak menemukan bukti bahwa satu belahan otak bekerja lebih dominan dalam kecerdasan seseorang. Bahkan, konsep ini juga goyah karena definisi yang digunakan oleh mitos tersebut terlalu samar.

Contohnya:

  • Matematika sering disebut sebagai kemampuan otak kiri karena sifatnya yang logis.
    Namun matematika juga sangat bergantung pada kreativitas, yang dianggap milik otak kanan. Jadi, apakah matematikawan tergolong orang “berotak kanan” atau “berotak kiri”?
  • Seni dianggap produk emosi dan spontanitas otak kanan.
    Padahal banyak karya seni besar lahir dari proses yang sangat terstruktur dan presisi—karakteristik yang disebut-sebut milik otak kiri.
BACA JUGA :  Waspada Bahaya Tawon dan Cara Ampuh Mengusirnya dari Rumah

Kenyataannya, otak manusia bekerja sebagai sistem yang terintegrasi, bukan dua mesin terpisah.

Akar Ilmiah yang Menyebabkan Mitos Ini Muncul

Walaupun hasil akhirnya keliru, mitos ini berakar pada sedikit temuan ilmiah nyata.

Pada 1940-an, dokter melakukan operasi pemutusan korpus kalosum—jembatan saraf yang menghubungkan belahan kanan dan kiri otak—untuk mengurangi kejang pada pasien epilepsi.

Setelah prosedur ini, yang kini jarang dilakukan, pasien tetap memiliki fungsi intelektual normal tetapi menunjukkan beberapa gangguan tertentu.

Dari penelitian terhadap pasien dengan otak terbelah (split-brain) itu, ditemukan bahwa:

  • Belahan kanan lebih unggul dalam tugas spasial (ruang dan bentuk).
  • Belahan kiri lebih banyak terlibat dalam bahasa dan pemecahan masalah.

Namun pembagian kerja ini tidak berarti satu belahan mendominasi kepribadian atau kecerdasan seseorang. Keduanya tetap bekerja sama dalam hampir semua aktivitas.

BACA JUGA :  Beasiswa AGRTPS 2026 Resmi Dibuka, Mahasiswa Indonesia Berkesempatan Kuliah Riset di Australia dengan Pendanaan Penuh

Mengapa Banyak Orang Mempercayainya?

Jika mitos ini tidak didukung bukti ilmiah, mengapa ia begitu populer?

Jawabannya berkaitan dengan efek Barnum—kecenderungan manusia menerima pernyataan umum sebagai deskripsi akurat tentang diri mereka sendiri, terutama jika pernyataan itu terdengar positif.

Pernyataan seperti:

  • “Kamu kreatif dan spontan, jadi pasti berotak kanan,”
  • atau “Kamu logis dan teratur, artinya otak kiri dominan,”

…mudah diterima karena terasa relevan, padahal sifatnya sangat generik.

Mitos otak kananotak kiri menawarkan cara yang tampak ilmiah untuk memahami diri sendiri, meski sebenarnya tidak akurat. Itulah mengapa ia bertahan lama dan masih dipercaya banyak orang.

Otak Bekerja Secara Menyeluruh, Bukan Terbelah

Sains modern menegaskan bahwa tidak ada orang yang benar-benar “berotak kanan” atau “berotak kiri”. Kedua belahan otak saling terhubung dan bekerja sama dalam hampir semua aktivitas, baik yang kreatif maupun analitis.

Kepribadian, bakat, dan kemampuan seseorang jauh lebih kompleks daripada sekadar dominasi sisi otak. Daripada mencari “belahan otak yang kuat”, lebih penting memahami potensi diri secara utuh dan mengembangkannya melalui pengalaman, belajar, dan latihan.

Bagi Halaman

Editor : Gistin Illiyin

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel



======================================
====================================